IPK vs “Soft Skill” d/h Adakah Korelasi Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Karir?

7 Mar

Date: Jul 19, 2007 8:56 AM

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/18/0901.htm

IPK vs “Soft Skill”
Oleh ASEP SUMARYANA

“SOFT skill” mendadak sohor. Sebuah penelitian dari National Association of College and Employee (NACE) 2002 menempatkan indeks prestasi kumulatif (IPK) di perguruan tinggi (PT) pada urutan ke-17. IPK kalah oleh kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, dan bijaksana. Namun kemampuan komunikasi, bekerja sama, interpersonal, etika, inisiatif, adaptasi, dan analitik lebih penting daripada komputer. Bisa jadi ada keraguan bahwa IPK tinggi adalah bagus, demikian sebaliknya.

Perolehan IPK tinggi mulai diragukan oleh banyak kalangan. Dampaknya, konsumen cenderung tidak terlalu bersemangat merekrut alumni PT yang IPK-nya terlalu tinggi. Bisa jadi IPK malah menyulitkan dalam setiap penyelesaian pekerjaan lantaran egoisme diri tiap-tiap individu terlalu tinggi sehingga mengabaikan kerja sama dengan orang lain yang menjadi mitranya. Tentu hal ini akan merugikan konsumen sebagai lembaga sehingga produktivitas menjadi terganggu. Konsumen pun pindah mencari figur yang dipandangnya mampu mempertinggi produktivitas dan kemampuan team work sebagai primadona baru seperti halnya soft skill.

Dalam dunia publik, posisi kesarjanaan menjadi penting untuk karier para pejabatnya. Fenomena tersebut didorong pula dengan persyaratan untuk menempati pos lebih tinggi dengan gelar kesarjanaan mulai dari strata 1 sampai strata 3. Bagi kalangan ini, soft skill bukan hal yang asing termasuk berhadapan dengan para pengajarnya. Dampak paling dekat, bisa jadi kemampuan memperoleh IPK bagus bagi sebagian orang cenderung disebabkan oleh soft skill-nya.

Kalangan mahasiswa muda (MM) sering kalah oleh kalangan mahasiswa pegawai (MP) kendati kalangan terakhir agak sulit membagi waktu kuliah dengan bekerjanya. Bisa saja MP yang pejabat lebih diramahi dosennya karena posisi publiknya. Tetapi tidak bisa MM mengimitasi yang MP. Bagi MP kuliah dan lulus menjadi persyaratan administratif untuk kariernya, sementara bagi MM menjadi bekal hidupnya kelak dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Dampak image bisa ke motivasi kuliah. Kejaran terhadap nilai dan cepat lulus sering kali membuat MM lupa bahwa ilmu dan wawasan menjadi lebih penting daripada sekadar nilai tinggi. Cum laude mestinya ditafsirkan sebagai penguasaan wawasan dan kekayaan sosial pun menjadi paripurna. Kecenderungan konsumen mencari pemilik soft skill mestinya mendorong MM menjadi mahasiswa aktivis. Namun perlu dihindari kepercayaan diri yang terlampau tinggi ketika menjadi aktivis sehingga mengabaikan lingkungan sekitar. Pengabaian ini bisa menciptakan stigma buruk sebagai mahasiswa yang sombong dan meremehkan orang lain.

Pemupukan soft skill tentu melibatkan lembaga terkait selevel Pembantu Rektor III, Pembantu Dekan III ataupun Jurusan/Program Studi. Pembinaan dilakukan supaya soft skill tidak melenceng menjadi kesombongan pihak yang merasa memilikinya. Keterlibatan aktif pembina, akan menyemarakkan kegiatan kemahasiswaan. Tidak lagi terjadi mahasiswa aktif ketika penerimaan mahasiswa baru dan musim ospek saja, sementara dalam waktu yang lebih panjang paceklik dari kegiatan kemahasiswaan. Mungkin tidak lagi terjadi organisasi kemahasiswaan semacam HIMA, BEM, dan Senat sepi peminat yang berdampak sepi pula kegiatannya.

Soft skill memang tidak ditentukan oleh prestasi akademik (misalnya lulus cum laude) atau masa studi singkat, seperti dikemukakan oleh Prof. Chaedar, tetapi lebih dipengaruhi oleh sifat-sifat kepemimpinan, kreativitas, kerapian tampilan, dan kecerdasan sosial. Oleh sebab itu, beliau memandang program BEM dan UKM menjadi program pemberdayaan kapasitas sehingga disampaikannya tujuh prinsip yang dapat dilakukan, mulai dari peningkatan kemampuan kolektif, demokratisasi pengetahuan, keberpihakan pada lingkungan masyarakat, perubahan pola pikir, komitmen tanpa paksaan, sebagai subjek kegiatan, dan integrasi hasil program dan kegiatan nyata (“PR”, 15/05/07).

Asal Bapak(nya) Senang

Kemampuan menguliahkan anak ke PT tampaknya menjadi
ukuran status sosial kiwari. Memiliki anak kuliahan
cenderung lebih tinggi statusnya dibandingkan dengan
orang tua yang hanya mampu menyekolahkan sampai SLTA.
Demikian halnya kemampuan orang tua memiliki anak di
fakultas favorit lebih bangga ketimbang di fakultas
pasaran. Dampaknya sering kali orangtua menghendaki
anaknya agar kuliah di fakultas yang favorit.
Pandangan ini berkembang demikian luas ketika fenomena
sarjana mampu merebut pasaran kerja terus berkembang.
Dampaknya yang perlu dipikirkan adalah kecenderungan
anak kuliah demi memenuhi keinginan orang tua tanpa
mempertimbangkan potensi diri dan minat-bakatnya.

Posisi runding anak yang menjadi mahasiswa dengan
orang tuanya bisa menjadi tinggi ketika anak menjadi
kebanggaan orang tuanya. Untuk meraih nilai bagus bisa
tidak harus cerdas dengan kehadiran semester pendek
(SP) yang diplesetkan dengan semester pengampunan.
Dosen menjadi gamang untuk memberikan nilai buruk
dalam SP.

Dengan vakasi dan honorarium yang lebih tinggi, seakan
SP menjadi lebih menarik untuk dipertahankan oleh
sebagian komponen dosen. Kendati namanya berganti
menjadi semester alih tahun (SAT), image-nya masih
seperti yang dulu. Tentu saja hal ini memberikan
stigma yang kurang baik bagi dunia pendidikan tinggi
sehingga tidak sedikit kalangan berpendapat bahwa SP
ataupun SAT menjadi hama pendidikan.

Mungkin SAT dapat dimanfaatkan oleh oknum mahasiswa
ataupun oknum dosen untuk meraih untung beliung. Bisa
saja ada mahasiswa meminta uang lebih besar ketimbang
biaya SKS dalam SAT. Atau dapat terjadi oknum dosen
memperketat nilai di semester reguler untuk digiring
ke SAT. Dampaknya permainan akademik yang berbuntut
uang akan beranak pinak. Bila dibiarkan, kondisi ini
menjadi benih kebusukan di kemudian hari.
Komersialisasi pada dunia pekerjaan publik dapat
berhubungan dengan proses belajar di dunia pendidikan.
Kehidupan sosial yang bertumpu pada kegiatan
kelembagaan mahasiswa bisa berkurang, tergantikan
kehidupan yang lebih bernuansa uang.

Perubahan pola pikir

Perubahan ini dilakukan dengan beberapa hal.

Pertama, mengubah pandangan asal bapaknya senang.
Bakat dan minat anak berbeda sehingga tidak bisa
didorong untuk memenuhi prestise orang tua. Menghargai
kreativitas dan kecerdasan adalah kebutuhan yang perlu
dibangun secara kontinu. Mungkin saja ini akan menjadi
seleksi alam untuk membangun kelompok manusia mandiri
dan produktif. Ke depan perlu banyak variasi dan
keseimbangan antara pelaku kerja yang berhubungan
dengan orang serta yang tidak. Bisa jadi yang tidak
berhubungan dengan orang tidak membutuhkan soft skill
seperti laiknya pekerja yang selalu berhadapan dengan
orang.

Kedua, penghargaan terhadap material dapat menyebabkan
orang silau dan kabobodo tenjo kasamaran tingal. Soft
skill “katak” terbangun dalam komunitas seperti itu.
Menghargai prestasi dan kesederhanaan perlu
dikedepankan. Orang tidak dihormati lantaran mobil
bagus dan rumah mewah, tetapi dari kesalehan
sosialnya, tepo saliro, sareundeuk saigel sabobot
sapihanean. Bisa jadi kemewahan diperoleh melalui
kemurtadan sosial, urang seubeuh batur riweuh. Hidup
sebagai makhluk sosial yang membutuhkan lingkungan
perlu terus dipompakan dalam setiap nafas agar tidak
melupakan tetangga, baraya dan yang malarat.

Ketiga, meminimalisasi komersialisasi pendidikan.
Tokoh pendidikan, pemuka agama, dan tokoh masyarakat
adalah figur-figur keteladanan yang gerak-geriknya
menjadi anutan. Penggiringan ke SAT dan melakukan
bargaining dengan mahasiswa yang berujung uang bisa
membahayakan citra dunia yang seharusnya suci ini. MP
dan dosen pun berkewajiban menjaga citra pendidikan
agar nilai dan kelancaran studi tidak ditukar dengan
sejumlah kegiatan komersil. Tugas pemuka agama untuk
menjadi benteng pertahanan moral. Ketika pemuka agama
ada dalam dunia pendidikan ataupun politik, tentu
diharapkan dapat menaburkan rahmatan lil alamin dan
menyucikan dunia tersebut. Tokoh masyarakat lainnya
juga perlu mengajarkan nilai-nilai kesalehan sosial
dalam kehidupannya sehari-hari yang menjadi panduan
masyarakat sekaligus melakukan kontrol.

Soft skill tidak hanya perlu dimiliki mahasiswa,
tetapi juga pejabat, pemuka masyarakat, agamawan, dan
juga elemen masyarakat lainnya. Soft skill pendukung
etika dan moral bisa membuat hidup lebih gemah ripah
repeh rapih yang didasari oleh sikap landung kandungan
laer aisan. Ketika sulit dibangun seperti itu, bisa
jadi soft skill “katak” yang sedang berkembang biak.
Semoga tidak terjadi. Amin!***

Penulis, Lektor Kepala pada Jurusan Ilmu Administrasi
Negara FISIP Unpad serta Sekretaris LP3AN Unpad
Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: