University SCIENCE & TECHNOLOGY PARKS DI PERGURUAN TINGGI

13 Jul

Budi Rahardjo
Pusat Penelitian & Pengembangan – Industri dan Teknologi Informasi
Institut Teknologi Bandung
2003

Abstrak

Makalah ini menjabarkan tentang peranan dan manfaat science & technopark di perguruan tinggi, sejarah singkat technopark, dan pengalaman di tempat lain.

Daftar Isi

SCIENCE & TECHNOLOGY PARKS DI PERGURUAN TINGGI 1

Budi Rahardjo
Pusat Penelitian & Pengembangan – Industri dan Teknologi Informasi
Institut Teknologi Bandung
2003 1

Definisi Technopark 2

Tujuan Technopark 2

Sejarah Technopark 2

Manfaat dari Technopark 3

Permasalahan Seputar Technopark 4

Technopark di Luar Negeri 5

Penutup 5

Bahan Bacaan 5

Definisi Technopark

Science & Technology Park merupakan sebuah area di perguruan tinggi yang dapat dipergunakan oleh industri. Dia juga dikenal dengan nama lain seperti; “science park”, “science city”, “technopark”, “business park”, “technology corridor”, “technology zone”, dan masih banyak nama lain. Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah technopark untuk semua itu. Ada beberapa definisi dari technopark ini. Definisi technopark berikut diambil dari Aegean Tech2 di Turki:

  • is on an appealing land and contains beautiful architectural buildings scattered spatially where carefully selected science and technology or R&Dcompanies function, for new or applicational research,
  • conducts joint R&D with renowed close-by universities profiting extensively from their technological resources,
  • realizes strong technology transfer among universities, research laboratories and industry,
  • systematically draws support from the technopark’s management in order to develop its management skills, finds solutions to financing at all levels of the innovation process, and makes extensive use of all modern office facilities and consulting services.

Tujuan Technopark

Tujuan dari technopark adalah untuk membuat link yang permanen antara peguruan tinggi (akademisi), pelaku industri / bisnis / finansial, dan pemerintah. Technopark mencoba menggabungkan ide, inovasi, dan know-how dari dunia akademik dan kemampuan finansial (dan marketing) dari dunia bisnis. Diharapkan penggabungan ini dapat meningkatkan dan mempercepat pengembangan produk serta mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi ke produk yang dapat dipasarkan, dengan harapan untuk memperoleh economic return yang tinggi.

Adanya technopark membuat link yang permanen antara perguruan tinggi dan industri, sehingga terjadi clustering dan critical mass dari peneliti dan perusahaan. Hal ini membuat perusahaan menjadi lebih kuat.

Sejarah Technopark

Technopark dimulai di akhir tahun 1940-an, di Stanford University, California, Amerika Serikat. Sebagai sebuah universitas swasta yang baru mulai tumbuh, Stanford University memiliki kesulitan finansial untuk menarik minat dan menggaji staf (dosen) yang bagus-bagus. Meski memiliki lahan yang luas, pengelola universitas tidak diperkenankan menjual lahan tersebut. Akhirnya diputuskan untuk membuat sebuah “Stanford Research Park”, dimana industri dapat menyewa tempat di lahan Stanford University tersebut. Varian Associates merupakan tenant pertama di Stanford Research Park tersebut. Mulailah tercipta hubungan baik antara industri dan perguruan tinggi. Perusahaan yang tumbuh di daerah seputar Stanford University inilah yang mendorong tumbuhnya Silicon Valley di kemudian hari.

Kesuksesan Silicon Valley membuat berbagai tempat di dunia mempelajari cara-cara yang ditempuh oleh Stanford University. Di Indonesia sendiri ada sebuah inisiatif yang disebut Bandung High Tech Valley (BHTV) []. Namun inisiatif ini masih pada tahap awal.

Manfaat dari Technopark

Salah satu manfaat utama dari technopark dilihat dari kacamata industri adalah adanya akses ke sumber daya manusia (SDM) di kampus. Industri dapat mengakses ide, inovasi, dan teknologi yang dikembangkan oleh para peneliti di kampus. Mahasiswa (di luar negeri umumnya adalah mahasisa S2, S3, dan post doctoral) merupakan “pasukan semut” peneliti yang sangat penting karena jumlahnya yang banyak dan tidak terlalu mahal honornya. Industri lebih suka dengan pendekatan ini karena mereka tidak perlu merekrut pegawai tetap yang membawa banyak pertimbangan dan masalah (misalnya pengembangan karir, dsb.).

Di sisi lain, dosen, peneliti, dan mahasiswa senang dengan adanya technopark di kampus karena mereka dapat langsung berhadapan dengan masalah nyata yang dihadapi oleh industri. Mahasiswa dapat menggunakan pengalamannya ini sebagai referensi ketika dia mencari pekerjaan lain, jika dia tidak tertarik untuk menjadi bagian dari perusahaan yang bersangkutan. Program-program co-op dapat dibuatkan untuk mendukung kegiatan ini.

Industri yang sarat dengan teknologi akan selalu membutuhkan penelitian dan pengembangan (research & development, R&D), sehingga peran perguruan tinggi dan lembaga penelitian pasti sangat diperlukan. Namun kelihatannya perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia belum dapat menghargai industri sebagai client atau partner untuk jangka panjang. Biasanya hubungan ini masih berupa proyek yang sering berhenti dan tidak berkelanjutan. Dengan kata lain, technopark dapat menjadi penghubung yang permanen antara perguruan tinggi dan industri.

Sebuah penelitian yang kemudian hasilnya ditampilkan di Wired Magazine mengatakan bahwa keberhasilan sebuah daerah atau area dalam mengembangkan teknologi ditentukan oleh empat (4) hal, yaitu:

  • Adanya perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian
  • Adanya perusahaan (established companies) dimana fokusnya adalah perusahaan multinasional yang menjadi jangkar di area tersebut
  • Adanya semangat untuk mendirikan perusahaan startup
  • Ketersediaan finansial, misalnya venture capital

Majalah wired tersebut kemudian meranking tempat-tempat di dunia berdasarkan kriteria di atas. Jelas bahwa peran perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian sangat esensial.

Adanya technopark juga membawa manfaat lain seperti menciptakan terjadinya clustering dan critical mass dari peneliti (yang nantinya diasosiasikan dengan know how). Technopark juga dapat mencegah atau mengurangi brain drain (meskipun ini tidak terlalu menjadi masalah).

Permasalahan Seputar Technopark

Jika memang technopark membawa banyak manfaat dan keuntungan, mengapa kita tidak melihat adanya technopark yang berhasil di Indonesia? Ada beberapa kemungkinan alasan, antara lain:

  • Tidak tahu. Perguruan tinggi dan industri tidak tahu bahwa ada model seperti technopark. Perguruan tinggi masih terfokus pada program untuk menghasilkan SDM saja.
  • Tahu, tapi tidak mau berbuat. Pihak yang terkait tahu bahwa ada pendekatan technopark, akan tetapi tidak mau berbuat sesuatu. Biasanya ini terkait dengan tidak adanya kepemimpinan (lack of leadership) dan komitmen (lack of commitment).
  • Tahu, tapi tidak dapat berbuat. Ini merupakan alasan yang paling banyak digunakan. Ketidak-mampuan finansial, atau alasan-alasan lain sering digunakan untuk mendukung ketidang-mampuan ini. Padahal, technopark di Stanford University muncul karena kesulitan finansial mereka, dan pada waktu itu mereka belum terkenal.
  • Technopark diisi oleh orang yang tidak “kompeten”. Pada kasus ini, technopark sudah dibuat, akan tetapi tidak menghasilkan manfaat atau keuntungan besar seperti yang direncanakan. Hal ini kemungkinan disebabkan orang yang berada di technopark tersebut tidak cocok atau tidak kompeten. Merek di sana hanya semata-mata karena proyek belaka.
  • Pelaku industri di Indonesia sebetulnya hanya pedagang. Kebanyakan pelaku industri di Indonesia sebetulnya hanya pedagang (traders). Tidak ada yang salah dengan menjadi pedagang. Namun perlu diingat bahwa sifat dan kegiatan yang mereka lakukan berbeda dengan pelaku industri.

Technopark di Luar Negeri

Hampir di semua negara di luar negeri ada inisiatif untuk membuat technopark. Ada yang sukses dan banyak juga yang belum sukses (sesuai dengan kriteria mereka). Ada yang dekat dengan perguruan tinggi, ada yang langsung dibuat di sebuah daerah.

Penutup

Melihat kesuksesan di luar negeri, tentunya kita berharap akan ada science & technology park di Indonesia yang sukses juga. Namun perlu diingat bahwa ada faktor-faktor lain yang menentukan keberhasilannya daripada sekedar menyewakan lahan di perguruan tinggi. Ada faktor sosial dan kultur yang harus diperhatikan. Namun ini menjadi topik pembahasan tersendiri. Seperti komentar dari Robert Metcalfe (penemu Ethernet):

Silicon Valley is the only place on Earth not trying to figure out how to become Silicon Valley”.

Bahan Bacaan

  1. Budi Rahardjo, “A Story of Bandung High-Tech Valley,” makalah dipresentasikan di Seminar Nasional Industri Berbasis Teknologi Informasi dan Telekomunikasi, Aula Barat ITB, Bandung, 11 Mei 2002. Makalah dapat diperoleh secara on-line di http://budi. insan.co. id/articles
  2. Chong-Moon Lee (eds.), “The Silicon Valley Edge: a habitat for innovation and entrepreneurship,” Stanford University Press, 2000
  3. The Making of Silicon Valley: A One Hundred Year Renaissance.”
  4. David Jacobson, “Founding Fathers”, Stanford Magazine. Bercerita mengenai awal pembuatan perusahaan Hewlett Packard (HP). Dapat diperoleh dari situs http://www.stanford alumni.org/ news/magazine/ 1998/julaug/ articles/ founding_ fathers/founding _fathers. html
  5. Sejarah Silicon Valley dapat dilihat di http://www.netvalle y.com/svhistory. html
  6. Brad Wieners and Jennifer Hillner, “Silicon Envy,” Wired Magazine, edisi 6.09, September 1998. Artikel ini melihat tempat-tempat di dunia yang cocok untuk mendirikan start-up companies.
  7. “Venture Capitals: Skunk works, startups, and hungry VCs are making these 46 hubs the hot spots of the global high tech network,” Wired Magazine, edisi 8.07, Juli 2000.
  8. Science Park. Higher Education Newsletter. Online at http://www.crue. org/Bolet_ educ_ING8. htm

1 Dipresentasikan pada Workshop “Model Penerapan Hasil Penelitian di Perguruan Tinggi”,
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Program Diploma (P4),
Ciwaruga, Bandung, 11 Juni 2003.

2 http://egetek. unimedya. net.tr/pages/ projects/ techcorr/ intro.html

http://jalanku. multiply. com http://teknofood. blogspot. com
FaceBook : http://id-id. new.facebook. com/people/ Arief-Budi- Setyawan/ 1663852032

http://teknofood. blogspot. com http://jalanku. multiply. com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: