Seri Revolusi Digital: 05 Nietzche Era Digital

30 Apr

Berikut cerita kelima terobosan teknologi yang membangun Revolusi Digital.
Kisah tentang para entrepreneur dan inovator ini merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.
Kisah-kisah ini dapat pula dibaca di:
http://www.facebook .com/notes. php?id=635906551
Semoga bermanfaat. Salam hangat penuh semangat🙂

REVOLUSI DIGITAL (KISAH 05)
*Nietzche Era Digital*

Sebagaimana visioner lain, Doug Engelbart lahir mendahului zaman

*Oleh Andrianto Soekarnen*
Pada mulanya, komputer adalah benda asing yang hanya bisa dijalankan
segelintir ahli. Jika kemudian ia menjadi perangkat yang demikian populer, itu adalah berkat orang bervisi terang dan unik akan apa yang dapat dilakukan komputer. Orang itu adalah Douglas Engelbart.

Di awal 1950-an, Engelbart menempuh studi pasca sarjana teknik elektro di Universitas Berkeley, California. Ia meneliti arah perkembangan komputer digital. Ia mengajukan ide gila untuk ukuran zamannya, yakni komputer yang bisa bekerja berdasarkan kebutuhan individual. Menurut Engelbart, komputer harus mengikuti kemampuan manusia dan bukan sebaliknya.

Engelbart lalu merencanakan cara baru dalam menyusun, mengatur, dan
memandang informasi. Ia ingin komputer bekerja dalam dua wilayah. Yang
pertama–bagian yang sebenarnya– menampung seluruh informasi dalam suatu
sistem yang rumit. Bagian tersebut akan disembunyikan dari para pengguna.
Bagian kedua– yang muncul di layar–akan menampilkan informasi sesuai
kebutuhan pengguna. Ibaratnya, komputer adalah sebuah restoran. Kegiatan di
dapur disembunyikan dari dari apa yang disajikan di ruang makan.

Di era 1950-an dan 1960-an, proyek Engelbart dianggap gila. Waktu itu, para
ahli belum dapat membayangkan apa yang hendak ia capai. Engelbart harus
berjuang keras agar dipahami.

Pada akhirnya, ada pihak yang mau membiayai proyek ini. Departemen
Pertahanan Amerika Serikat, melalui program Information Processing
Techniques Office (IPTO), menjadi sponsor karena ingin komputer bisa juga
dioperasikan para serdadu. Engelbart lalu bermarkas di Stanford Research
Institute (SRI), Menlo Park, California, dimana para pemikir utama
Departemen Pertahanan berkumpul.

Pada 8 Desember 1968, Engelbart telah siap dengan hasil kerja keras timnya.
Pada sebuah auditorium di Brooks Hall, ia berdiri di depan beberapa ratus
sejawat. Panggung tempat presentasi dilengkapi sebuah besar layar besar. Di
situ, diproyeksikan tampilan layar monitor. Tapi, di ruang itu tak ada
komputer sama sekali. Mesin pintar tersebut tetap berada di laboratorium
Menlo Park, 40 mil dari lokasi presentasi. Saat itu, Engelbart hendak
memamerkan simulasi penggunaan komputer dari jarak jauh.

Di meja di hadapannya terdapat sebuah kotak kayu kecil dengan tiga buah
tombol. Melalui kotak kayu itulah Engelbart melakukan komunikasi dengan
komputer. Sementara itu, di layar, tampak sebuah tampilan grafis 2 dimensi,
bukan deretan teks seperti yang dikenal waktu itu. Ketika Engelbart
menggerak-gerakan kotak kayu tadi, sebuah petunjuk ikut bergerak di layar.
Itulah cikal bakal mouse atau tetikus yang kini umum melengkapi setiap
komputer di dunia.

Melalui mouse, Engelbart memilih perintah (menu) yang ada di layar.
Hasilnya, muncul sebuah kotak (semacam jendela atau window) yang menampilkan
data yang diinginkan. Hebatnya, waktu itu Engelbart bahkan sudah berhasil
memunculkan jendela yang menampilkan komunikasi video dengan Bill English,
anak buahnya, yang saat itu berada di laboratorium Menlo Park.

Hadirin segera tersadar akan apa yang bisa diperbuat komputer. Yang
ditampilkan Engelbart merupakan cikal bakal dari windows (prinsip tampilan
grafis pada layar komputer). Komputer bukan lagi benda angker yang hanya
bisa dijalankan segelintir pakar. Ia akan bisa digunakan siapa saja. Melalui
karyanya, Engelbart membuka jalan bagi pemasalan komputer pribadi.

Meski begitu, apa yang dirintis Engelbart rupanya memerlukan jalan berliku
untuk menjadi produk komersial. Prinsip windows baru muncul pada dekade
1980-an melalui produk dari perusahaan Apple dan Microsoft. Dan, Douglas
Engelbart, si jenius, ternyata tak pernah menjadi termasyur berkat karya
monumentalnya. Lelaki itu menjadi contoh paling dramatis dari kebiasaan
Lembah Silikon, yakni melupakan pahlawan mereka sendiri. Hanya segelintir
maniak komputer yag paling serius yang sadar bahwa, tanpa Engelbart, Lembah
Silikon tidak akan pernah semakmur sekarang. “Saya dibuang ke Siberia,”
katanya, suatu ketika, bergurau tentang bagaimana ia disingkirkan dari
sebuah masyarakat riset. Nasibnya mirip Nietzche dan Van Gogh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: