TIPS WAWANCARA KERJA (BILA KEDAAN TIDAK SEPERTI YANG DIHARAPKAN)

27 Jan

Kadang kala sesuatu tidak hadir sebagaimana dikehendaki atau diharapkan. Jika segala sesuai tentu tidak jadi masalah, persoalannya adalah bagaimana jika kita dihadapkan pada situasi yang buruk. Seharusnya ini juga merupakan test, paling tidak test seberapa smart kita menghadapi sesuatu yang “tidak normal”.

1.
Seharusnya kita berpakaian rapi, untuk menjaganya ada baiknya naik taksi dan rambut tersisir rapi tak terusik oleh debu apapun. Tapi mungkin kita datang dari kota yang jauh, Surabaya misalnya. Mau bermalam, cuti di kantor asal terbatas (bagi karyawan baru malah belum dapat cuti, biasanya alasan bolosnya sakit) atau malah nggak punya cadangan tabungan sama sekali, bagaimana ini, ya?
*
Buat yang jarak jauh,
*
persiapkan pakaian dengan baik dan tersetrika rapi. Kalau takut lecek, bawa dengan hangernya dan bungkus dengan pembungkus jas misalnya. Kalau nggak ada lipat rapi dan keraskan packing dengan karton. Jangan lupa sepatu sudah disemir mengkilat sebelumnya, bungkus dan jika ingin dipakai cukup dilap dengan shiner saja atau lap biasa juga bisa.
*
mandi di kamar mandi yang telah tersedia di stasiun, semua stasiun ada kamar mandinya.
*
titipkan buntelan anda di tempat penitipan stasiun, dengan tas yang agak formal bawa dokumen yang diperlukan.
*
kalau mau praktis, pilih dasi yang instan bukan yang konvensional, tinggal tarik rapilah sudah.
*
Buat yang naik bus kota,
*
tips di atas bisa dipakai, jadi nggak perlu leher terikat sejak dari mulai naik Metromini, gerah dan bikin mood nggak bagus.
*
cari toilet dan berdandanlah di sana, sekali lagi dasi instan amat membantu.
*
Nggak punya jas? Kemeja berdasi sudah cukup formal atau kalau memang ada sedikit rejeki beli “jacket” semacam blazer juga sudah bagus. Bukan mahalnya, tetapi keserasian warna-ukuran- proporsi dengan tubuh sudah enak terlihat. Jangan lupa perhatikan warna kaus kaki anda, sekalipun tak terlihat jika warnanya nggak nyambung bikin pusing juga, apalagi pakai kaus kaki sepak bola, hehehehe.
2.
Bagaimana kalau datang terlambat. Jangan sekali-kali terlambat untuk test psikotest karena test ini amat erat berhubungan dengan waktu. Kalau wawancara? Mestinya sih nggak boleh juga. Tapi namanya juga “nggak sengaja”, berikut sebuah ilustrasi misalnya jadwal test jam 09.00 kita baru bisa muncul jam 09.30 (maklum kamar mandi ngantri, macet lalu lintas, salah naik bus, salah masuk gedung), seorang kawan saya pernah ngalami:
*
Kawan menghadap panitia : “Maaf Bu saya dapat undangan untuk wawancara pukul 09.00, sekarang sudah 09.30?”
*
Panitia Wawancara : “Waduh, Maaf Pak atas keterlambatan kami, kami dari luar kota sehingga terlambat memulai acara ini, kalau Bapak masih berminat silakan Bapak menunggu di ruang tunggu, nanti pada saatnya Bapak akan kami panggil” Hehehehehe, malah dia yang minta maaf, padahal jelas kawan saya yang telat. Beruntunglah, karena di kota besar seperti Jakarta, tepat waktu merupakan sesuatu yang amat mahal. Bukan kita saja yang mungkin terlambat, tetapi siapa tahu mereka juga terlambat. Ambil spekulasi ini dan bikin kalimat ‘menggantung’ seperti pertanyaan saya tadi.
3.
Bagaimana kalau menghadapi pertanyaan-pertanya an yang sulit? Jika anda mengetahui prinsip dasar, garis besar atau pada pokoknya saja. Jawab saja sesuai dengan apa yang anda ketahui dan jika mungkin, tinggal menambahkan, “Untuk hal lebih detail, menurut pendapat saya itu kasuistik tergantung pada karakteristik masing-masing kasus.” Dan anda tinggal melengkapi “kasus” nya dengan logika yang telah terbangun pada pengertian dasar tadi. Yang namanya kasus, tentu amat kasustik. Bisa berbeda pendapat tapi tidak bisa langsung salah menyalahkan. Atau ada seorang kawan yang dengan berani berkata “Lupa”. Untuk kemudian, ketika “lupa” nya digugat oleh pewawancara, kawan ini menjelaskan, “Kalau lupa itu artinya saya pernah mempelajarinya, pernah mengetahuinya, hanya saja karena jarang menghadapi permasalahan ini saya tidak ingat. Tetapi manakala diperlukan saya dapat dengan mudah mencari referensi dan menjawabnya. Berbeda dengan ‘tidak tahu’, berarti memang tidak pernah mengetahui sebelumnya.”

Cukup 3 itu saja dulu, mungkin tidak pas juga karena memang sangat situasional. Tapi jurus “ngeles” ini mungkin berguna, karena mungkin saja kita begitu terpepet. Yang penting tetap konsentrasi dan fokus kepada tujuan wawancara itu sendiri.

Salam,
ebs

Sumber : Milis GPS Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: