Moodle, Portal E-Learning

27 Aug

Kamis, 31 Juli 2008 | 00:51 WIB

Amir Sodikin

Seorang guru sebuah sekolah menengah di Jakarta mengeluhkan adanya
biaya pembuatan portal website untuk kepentingan sekolahnya. Nilai
proyek pembuatan website dan biaya sewa server untuk hosting (tempat
meletakkan file di website) itu mencapai jutaan rupiah per bulan.
Biaya itu sebenarnya bisa dipangkas jika mereka mengetahui banyak
software gratis yang siap digunakan.

Di dunia internet, banyak manusia super baik hati yang mendedikasikan
hidupnya untuk kepentingan sosial. Mereka bekerja siang malam selama
bertahun-tahun untuk menghasilkan perangkat lunak gratis. Dalam
konteks ini, manusia-manusia seperti itu jauh lebih baik hatinya
dibanding institusi pemerintahan kita.

Salah satunya adalah Martin Dougiamas, pendiri software e-learning
(electronic learning, pembelajaran elektronik berbasis website)
bernama Moodle yang beberapa hari lalu memenangi penghargaan The Best
Education Enabler pada ajang “2008 Google-O’Reilly Open Source
Awards”. Dougiamas membuat Moodle hanya untuk hobi, walaupun di akhir
kisah, dia juga menjadikan hobi itu sebagai tesis untuk mendapatkan
gelar PhD dari Curtin University of Technology di Perth, Australia.

Dedikasi, inovasi, dan kontribusi untuk open source dari software
Moodle memang fenomenal. Moodle hingga kini masih memimpin sebagai
software gratis untuk membangun website komunitas yang mendukung
proses pembelajaran berbasis website.

Moodle mencitpakan genre baru di bidang kategori software, yaitu
Course Management System (CMS). CMS biasanya singkatan dari Content
Management System, software sejenis tetapi lebih fokus pada isi berita.

Prinsip pedagogi dipegang teguh Moodle karena membantu pendidik
menciptakan komunitas pendidikan online. Software ini bisa digunakan
guru atau institusi pendidikan. Juga potensial digunakan perseorangan
untuk membangun kursus online.

Hingga Januari 2008, jumlah website yang menggunakan Moodle tercatat
38.896 website (yang resmi terdaftar) dan digunakan 16.927.590
pengguna dengan jumlah materi 1.713.438 buah.

Instalasi Moodle

Huruf “M” pada Moodle berarti Martin, nama pendirinya. Namun, Moodle
secara resmi merupakan singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic
Learning Environment, tempat belajar dinamis menggunakan model
berorientasi obyek.

Program ini bisa diunduh dari www.moodle.org. Dibutuhkan ruangan
hosting (untuk menempatkan file di website) minimal 59,34 MB. Server
harus mendukung Apache, PHP, dan database MySQL atau PostgreSQL.

Instalasi termasuk mudah dan bisa dilakukan seorang pemula. Untuk
hosting yang memiliki Fantastico, proses instalasi makin mudah karena
bisa dilakukan instan lewat Fantastico.

Dengan Moodle, guru memiliki kontrol penuh terhadap aktivitas belajar,
mulai membuat materi, penugasan, menentukan siapa yang berhak
mengikuti, survei, jurnal, kuis, chatting, workshop, forum diskusi,
mengirim e-mail kepada murid, dan masih banyak lagi.

Dari sisi tampilan, Moodle tampak biasa saja, tetapi sistem yang
tertanam di dalamnya terbilang canggih. Bukan hal mengherankan jika
Moodle memang yang terbaik di kelasnya.

Moodle Indonesia

Masih sedikit lembaga pendidikan Indonesia yang memanfaatkan Moodle.
Kemungkinan terjadi karena banyak pembuatan website di dunia
pendidikan lebih berbasis proyek dan dikerjakan oleh developer
berbayar mahal.

Daftar website yang menggunakan Moodle bisa dilihat di
http://moodle. org/sites/ index.php? country=ID. Tercatat ada 285
website, mulai dari website milik perusahaan, universitas, sekolah,
lembaga pendidikan nonformal, hingga situs pribadi.

Perusahaan yang memanfaatkan Moodle, misalnya, Garuda Indonesia
e-Learning dengan alamat http://training. garuda-indonesia .com/mynts.
Lion Air dengan alamat http://ltc.lionair. co.id. Cek juga e-learning
milik PT WIKA di http://e-learning. wikarealty. co.id.

Untuk kategori universitas ada FMIPA Universitas Gadjah Mada,
http://kuantum. mipa.ugm. ac.id. Beberapa lembaga di bawah Institut
Teknologi Bandung (ITB) juga menggunakan Moodle, misalnya
http://kuliah. itb.ac.id.

Dalam diskusi di http://www.moodle.org, beberapa di antaranya datang dari
Indonesia, mengungkap kendala penggunaan e-learning. Apa yang
diungkapkan Yudi Wibisono pada tahun 2005 tampaknya masih aktual
hingga sekarang.

“Saya merasa hal yang paling sulit adalah meyakinkan jurusan atau
fakultas dan dosen lain mengenai masa depan e-learning ini. Harus
sabar dan terus-menerus beriklan. Beberapa dosen juga mengalami
kesulitan dan takut menggunakan Moodle. Pemberian dokumen petunjuk
penggunaan bagi dosen mungkin bisa membantu,” katanya.

Pengguna lain, Yuyun Somantri lewat forum Moodle, menyampaikan
keputusasaannya, “Sulit sekali meyakinkan atasan dan teman-teman. Dari
76 orang guru, dua guru TIK dan saya guru Matematika, jelas kalah
suara. Sebanyak 73 guru plus satu Kepala Sekolah bilang, ‘Untuk apa
(e-learning) ? Tidak akan efektif, yang ujungnya ke masalah biaya
hosting, kelihatannya tidak mendatangkan keuntungan malah menambah
beban,” katanya.

Banyak institusi pendidikan yang tak memanfaatkan e-learning untuk
memperkaya pengalaman belajar. Beberapa institusi sudah
menggunakannya, tetapi lebih ke gengsi sekolah daripada mengejar
efektivitas.

Padahal, dalam pandangan Martin Dougiamas, pendiri software Moodle,
Moodle akan merevitalisasi cara belajar top-down (dari atas ke bawah)
menjadi proses pembelajaran yang partisipatif. Beberapa resum singkat
tulisan dia bisa dilihat di situs pribadinya, http://www.dougiamas. com.

Moodle memaksa sekolah untuk menerapkan sistem pendidikan yang
menghargai pemikiran murid. Murid tidak lagi dianggap sebagai “gelas
kosong”, karena itu para murid boleh mengomentari materi atau modul,
bahkan bisa mengirim tulisan sebagai bahan pembelajaran. Proses
belajar bisa datang dari siapa pun terutama dari anggota komunitas,
termasuk dari seorang murid. Siapkah?

Sumber:
Kompas.com

6 Responses to “Moodle, Portal E-Learning”

  1. sagung September 16, 2008 at 12:23 am #

    Waduuuh, panjang.

  2. ari September 18, 2008 at 12:43 pm #

    saya sepakat bahwa di Indonesia ini dalam hal pendidikan sangat menghawatirkan.
    apalagi kalau sudah bicara dengan teknologi yang berhubungan dengan dunia pendidikan….karena saya sudah mengalaminya sendiri.ketika saya mau memeberikan e-learning kepada sekolah saya dulu, tangapan dari pihak sekolah tersebut kurang merespons akan e-learning ini

  3. maksum September 22, 2008 at 7:52 am #

    Bisa enggak anda memberikan pelatihan singkat untuk dosen-dosen di Cirrebon

  4. Fendi2.0 October 2, 2008 at 12:51 am #

    Pola pikir tentang e-learning memang masih sempit

  5. Admin October 6, 2008 at 5:23 pm #

    silahkan hubungi Bapak Romi Satria Wahono. Beliau pakar di bidang ini.

    http://romisatriawahono.net/

  6. Heru October 30, 2008 at 6:14 pm #

    ketika saya coba instal moodle. Sampai pada tahap konfigurasi database, terdapat pesan sebagai berikut:
    We could not connect to the database you specified. Please check your database setting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: