Business Intelligence (BI)

23 Jul

Business Intelligence

Ditulis oleh Helly Purwanto

Rekan-rekan,

Asyik juga nih diskusi tentang BI dengan Pro dan Kontra-nya. Pertama
biar nggak salah tangkep dulu. Saya benar-bener gelandangan bebas
dalam artian kerja untuk diri sendiri. Nggak punya kepentingan
mewakili vendor A, pro consulting company B, mewakili perusahaan C
dsb. Saya hanya punya ketertarikan dengan BI ini – nggak punya tujuan
untuk penetrate satu product tertentu.

Saya tertarik karena dari sejak 20 tahun lalu saya mulai menulis code
program saya yang pertama, tujuannya adalah provide information. Baik
untuk melakukan transaksi atau membuat keputusan. Dan konsep BI ini
menurut saya seolah merupakan bagian hilir dari itu semua. Sekarang
saya sedang tertarik mencoba BI Open Source – kalau ada rekan-rekan
yang tertarik, mari kita sama-sama mencoba, hasilnya bisa disebarkan
lewat Pak Syarwani. Kita buat BI for everyone – free lagi, productnya
nggak kalah jauh sama vendor-vendor besar.

Istilah BI sendiri entah itu dari vendor atau dari dunia pendidikan
saya tidak terlalu peduli. Mengapa? Karena istilah tersebut bagi saya
cukup mudah dan merangkum semua jargon-jargon yang menurut saya malah
membingungkan: ada Knowledge and Data Engineering, Decision Support
System, Executive Information System, Performance Scorecard, ETL,
Data Warehousing, Data Mining, dsb.

Sebelas tahun yang lalu saya pertama kali menggunakan Business Object
untuk keperluan Reporting dari satu ERP – saya hanya kenal namanya
report writer, bukan BI – walaupun canggih juga bisa pivoting kesana-
kemari. Istilah kerennya Multidimensional Analysis. Waktu itu saya
nggak pernah tahu istilah BI. Kurang gaul kah?

Setelah jalan beberapa tahun istilah BI makin populer. Saya coba
melihat apa itu BI, pengamatan saya solusi BI secara mudahnya
memiliki building block sebagai berikut:

1. Data Structure – data structure BI biasanya menganut Star Schema.
Dimana satu object data (FACT) bisa dipandang dari berbagai sudut
pandang (DIMENSION). Mis; Transaksi PO dilihat dari dimensi Product,
Vendor, dan Customer. Betul kata Pak Irsal – pivot excel. Kalau
design data kita nggak bisa dibuat pivot excel dengan mudah berati
design Star Schema kita pasti salah. Data structure ini cara
penyimpanannya berkembang, tujuannya satu – supaya retrieve datanya
cepat – maka keluarlah metoda penyimpanan dengan menggunakan Cube
(kalau pakai RDBMS biasa yah semacam summary table. Methoda ini bisa
dikenal dengan OLAP – ada Relational OLAP (ROLAP), Multidimensional
OLAP (MOLAP) atau Hybrid OLAP (HOLAP). Anda bisa cari di internet
konsepnya.

2. ETL – Extract Transfor Loading. Karena BI bisanya memadukan
informasi dari berbagai sumber informasi maka dibutuhkan satu engine
yang dapat menarik data dari sumbernya, merubah formatnya supaya
seragam (data tanggal harus sama, kode Customer harus sama dsb), lalu
dimasukkan ke dalam struktur data yang kita siapkan tadi sudah. Dari
jaman jebot kita sudah bisa melakukan ini. Misalnya: di Oracle pakai
aja PL/SQL, buat procedure lalu kita schedulekan jobnya. Iya kalau
sumber datanya satu, kalau banyak? Gimana dengan lintas platform –
data source di Unix data warehouse di Windows? – gimana kita ngontrol
sequence-nya, gimana kita tahu ada sequence yang fail, gimana kita
bisa restart dengan mudah? Biasanya solusi BI meng-cover ETL tool
ini. Ada juga beberapa vendor yang fokus produce ETL tool seperti
sunopsis misalnya.

3. Reporting Tool – Setelah data masuk paling gampang kita keluarkan
menjadi report. Entah itu report tabular atau charting. Yang ini juga
dari jaman jebot juga udah pada pakai. Ujung-ujungnya report.

4. Multidimensional Analysis (OLAP Analysis) – Memanfaatkan design
data yang ada di nomor 1 tadi dengan memberikan kemampuan kepada user
untuk melakukan analysis multidmensi. Seperti melakukan pivot table
dan pivot charting di excel mungkin penjelasan secara mudahnya.
Diatambah dengan statistik dan kemampuan untuk melakukan forecast
dengan memasukkan parameter-parameter tertentu vendor biasa
menyebutnya dengan data mining.

5. Drill Down dan Drill Through. Point 3 dan 4 tadi harus
memungkinkan user untuk melakukan drill down – membreakdown informasi
pada level yang lebih detail – misalnya dari summary pembelian
customer sampai product yang dibelingnya. Dan drill through – dari
data product tadi kita bisa click untuk mendapatkan trend dari setiap
product.

6. Dashboarding – Menampilkan informasi-informasi dalam bentuk
summary data. Biasanya populer dalam bentuk Chart yang dimana dengan
sekali melihat kita bisa tahu apa yang terjadi dengan business kita
dan bagaimana follow upnya.

7. Personalization – 3, 4, 5, 6 diatas akan percuma bila kita tidak
dapat melakukan personalisasi data. Kita akan kebanyakan informasi
yang mungkin tidak kita butuhkan. Kita seharusnya bisa memilih report
yang saya butuhkan a,b,c,d. Dashboard saya berisi informasi x,y,z.
Data-data yang tampil pada layar kita hanya data-data yang relevan
dengan pekerjaan dan tanggung jawab kita.

8. Alerting and Collaboration. Sistem BI kita hendaknya dapat
mengingatkan kita bila ada performance yang membutuhkan perhatian
kita. Kita dapat memasukkan action plan – menunjuk Person In Charge –
dan memonitor apakah action plan tersebut sudah terlaksana atau
belum. Hal tersebut dilakukan dengan memanfaatkan e-mail, mobile
devices, dsb.

Apa lagi ya?? – Hal diatas mungkin merupakan standard BI. Diatasnya
masih dapat kita tempatkan aplikasi-aplikasi untuk mengelola strategy
seperti Balanced Scorecard/Corporate Performance Management. Ada yang
membuat productnya tersambung dengan BI seperti SAP SEM (Strategic
Enterprise Management), Oracle Balance Scorecard. Atau yang specific
dibuat untuk kebutuhan tsb seperti QPR dan PBView/Performance View.
Rekan-rekan ada yang tahu versi Open Source dari ini? Ini satu-
satunya part di Opensource BI yang saya belum dapatkan.

Menurut saya bila item-item diatas sudah terimplementasi baru kita
bilang saya sudah mengimplementasikan BI. Saya pernah melihat
beberapa company yang bilang sudah implementasi BI – yang ada hanya
OLAP Analysis Tool atau Reporting Tool saja. Ada juga vendor yang
bilang software saya sudah ada BI-nya, yang isinya cuma Report dan
Charting tool saja.

BI bagi saya sangat menarik karena menggabungkan pemahaman business
dengan database management. Di depan masih ada penggabungan BI dengan
Artificial Intelligent, Fuzzy Logic, Neural Network, dsb. Resultnya
bisa seperti Plant Intelligence System.

Satu yang masih harus saya jelaskan/diskusikan – mungkin. Saya masih
beranggapan bahwa implementasi BI ini tidak harus menunggu ERP
perfect. Saya akan coba tuliskan business case kecil, nanti kalau ada
waktu untuk hal ini. Mungkin di Industri saya yang Non Manufacturing,
dimana Value Chain-nya sangat sedikit terkait dengan ERP, hal diatas
relevan.

Pada Oil & Gas, Mining, dan Utilities ERP biasanya tidak mengcover
proses planning dan production. ERP hanya mengcover support
activities seperti Maintenance, Sparepart Inventory/Procureme nt, HR
dan Finance. Value Chain yang menjadi jantung produksi biasanya
dikelola dengan software-software yang spesifik untuk kebutuhan
planning dan production. BI akan mengambil data-data dari software-
software ini. Dalam banyak kasus biasanya terjadi dikotomi disini
Software-software plant dikelola oleh Plant Operation sedang kan
software business dikelola oleh MIS. Padahal informasi-nya bila
digabungkan akan menjadi sangat berguna.

Anyway – jargon ERP bahwa semua harus terintegrasi dalam satu
software package dalam beberapa tahun ke depan juga mungkin tidak
relevan lagi. Konsep Service Oriented Architecture (SOA)/Enterprise
Application Integration akan mempermudah kita menggabungkan informasi
dari berbagai software – semua akan menganut Open Architecture.
Setiap software akan menyediakan service dimana menurut kita software
tersebut terbaik dalam penyediaan service tersebut. Bisa saja terjadi
konfigurasi Maintenance pakai Maximo, FI/CO pakai SAP, purchasing
pakai Commerce One (?? Lupa namanya), CRM pakai Siebel, BI pakai
Business Objects – di dalam satu perusahaan. Pokoknya Campursari-lah
he..he..he..

Kalau sekarang kelihatannya makin susah tapi kalau melihat
Netweaver, Oracle Fusion, dan engine-engine integrasi seperti MS
Biztalk dan Web Method hal tersebut tidak akan jauh lagi.

Sorry kepanjangan – masih banyak lagi sebenarnya topik-topik BI yang
menarik untuk dijadikan bahan diskusi.

3 Responses to “Business Intelligence (BI)”

  1. dxhg August 19, 2008 at 1:34 pm #

    He..he.. kalo aku sih pake Tableau Software sebagai BI toolsnya.
    http://www.tableausoftware.com

  2. M. Zaenal June 18, 2009 at 11:35 am #

    Bos mo tanya nih,
    Diatas dibilangin bahwa pada umumnya skema database yg dipakai utk BI adalah star, mungkin hanya single star ya (1 fact yg akan dibrowse dari beberapa dimensi). Yg saya bingungkan nantinya klo ada lebih dari satu skema star dalam satu database (lebih dari satu fact, tentu saja beda fact juga beda dimensi), bagaimana cara perlakuannya?
    Bisakah fact-2 tersebut dikombinasikan?
    Misalnya tabel fact karyawan dan tabel fact cabang dimana pada tabel karyawan mempunyai tabel dimensi keluarga, tabel pendidikan, tabel histori kepangkatan. Sedangkan tabel fact cabang mempunyai tabel dimensi pertumbuhan pendapatan masyarakat di kota tpt cabang, tabel pendapatan cabang, tabel efisiensi operasi cabang dll. Selanjutnya user akan mengkombinasikan fact karyawan dengan fact cabang dengan dimensi keluarga, pendidikan dibandingkan dengan dimensi pendapatan cabang. Klo kasusnya gini, gimana kita nyusun struktur tabel warehousing-nya bos..?

  3. Herdis Suryatna November 29, 2011 at 12:58 pm #

    ada source BI nya ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: