Ironi Perpustakaan Sekolah di Surabaya

28 Dec

Sumber : Jawa Pos, Edisi Selasa, 18 Des 2007.

Oleh: RAHMA SUGIHARTATI

Sungguh ironis. Sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, kondisi perpustakaan sekolah di Surabaya ternyata sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dari 1.713 sekolah se-Surabaya, mulai SD hingga SMA di Surabaya ternyata hampir separo sekolah belum memiliki perpustakaan (Jawa Pos, 1 Desember 2007).

Untuk jenjang SD, dari 944 sekolah yang ada, dilaporkan baru 42 persen sekolah yang sudah memiliki perpustakaan. Di jenjang SMP dan SMA kondisinya lebih baik, karena sekitar 72 persen lebih sekolah telah memiliki perpustakaan sendiri. Tetapi, untuk MI, MTs dan MA, kondisinya masih sangat memprihatinkan. Di jenjang MA, bahkan baru 10 persen sekolah yang telah memiliki perpustakaan sendiri. Untuk MTs baru 22,2 persen, sedangkan di MI baru 31 persen.

Pada saat pemerintah telah memberlakukan kebijakan otonomi sekolah dan menekankan arti penting penelusuran informasi secara mandiri oleh siswa, kondisi minimnya jumlah perpustakaan sekolah bukan tidak mungkin akan berdampak kontra-produktif. Dalam proses belajar-mengajar yang menekankan arti penting kreativitas dan keaktifan siswa, tentu yang namanya peserta didik perlu diberi kesempatan secara aktif dalam membuka pikirannya, mengembangkan bakat-bakat yang ada padanya, dan membiasakan diri untuk memperkaya pengetahuannya melalui berbagai kegiatan membaca. Dengan membaca, seorang anak didik akan memperoleh keterangan, kata-kata baru, dan sejumlah ide yang semuanya akan memengaruhi jalan pikiran sekaligus membantu perkembangan mental anak didik.

Secara teoritis, dalam proses belajar-mengajar, kehadiran dan peran perpustakaan sekolah sungguh sangat penting. Yang dimaksud perpustakaan sekolah di sini adalah perpustakaan yang tergabung dalam sebuah sekolah, dan dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan. Tujuannya dirumuskan sebagai berikut: (1) menimbulkan kecintaan membaca, (2) membimbing dan mempercepat proses penguasaan teknik membaca dari learning to read menjadi reading to learn, (3) memperluas dan memperkaya cakrawala pengalaman belajar siswa, (4) membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir siswa, (5) memberi dasar-dasar kemampuan penelusuran informasi, dan (6) memberi dasar-dasar ke arah studi yang mandiri.

Ringkas kata, kehadiran perpustakaan sekolah bukan sekadar melayani selera para siswa untuk membaca buku-buku hiburan belaka. Lebih dari itu, perpustakaan sekolah harus dapat membantu para siswa mengasah otak, menelusuri informasi secara mandiri, memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membentuk kepribadian dan ketrampilan sesuai dengan tuntutan pembangunan (Soewignjo, 1993).

Dropping dan Formalitas

Mungkin memang benar bahwa separo sekolah di Surabaya telah memiliki perpustakaan sendiri. Pertanyaannya kemudian, apakah perpustakaan sekolah yang ada itu telah melaksanakan peran sebagaimana diharapkan?

Selama ini, diakui atau tidak, kebanyakan kelahiran perpustakaan sekolah umumnya bukan karena inisiatif sekolah yang telah menyadari arti penting dan fungsi perpustakaan sekolah. Melainkan karena didahului atau mungkin saja terpaksa diadakan karena adanya buku-buku dropping dari pusat atau sekadar formalitas belaka.

Sudah bukan rahasia, meski di sebuah sekolah dilaporkan telah memiliki perpustakaan sekolah, ternyata koleksi bahan pustaka yang ada seringkali tidak memenuhi kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena motivasi diadakannya buku-buku dropping belum jelas arah dan tujuannya. Selain itu, sekolah sendiri kebanyakan tidak memiliki tim seleksi dan pustakawana handal yang bisa memberi usulan tentang pemilihan koleksi atau pun aktif sendiri mencari usaha-usaha untuk memperbanyak koleksi dengan sistem seleksi yang baik.

Perpustakaan sekolah yang baik tentu tidak hanya berperan untuk mengumpulkan informasi, menyediakan kartu katalog, menyuguhkan cara pelayanan yang ramah dan memiliki pustakawan yang selalu membantu anak didik dan guru yang membutuhkan informasi. Tetapi, lebih dari itu perpustakaan sekolah yang baik sesungguhnya mengemban misi dan fungsi yang jauh lebih kompleks, yakni mulai dari fungsi edukatif, informatif, fungsi riset, dan fungsi rekreatif bagi anak didik.

Sebuah sekolah yang membangun perpustakaan semata hanya demi kepentingan akreditasi sekolah, maka cepat atau lambat perpustakaan yang dibangun akan kehilangan ruhnya. Alih-alih dimanfaatkan sebagai wahana untuk menelusuri informasi lebih lanjut dan dimanfaatkan untuk mencari kelengkapan data studi. Justru yang terjadi, perpustakaan sekolah akan berubah fungsi menjadi etalase, sekadar dilihat, atau menjadi tempat pertemuan siswa untuk nongkrong, tetapi sama sekali tidak dimanfaatkan untuk membaca dan mencari tambahan informasi. Jika seperti ini yang terjadi, lantas apa beda perpustakaan dengan kantin?

Membangun Perpustakaan Sekolah

Untuk mengejar ketertinggalan, sudah barang tentu pembangunan perpustakaan di masing-masing sekolah tidak bisa ditawar-tawar. Adalah tugas Dinas Pendidikan untuk memastikan agar sekolah yang belum memiliki perpustakaan sesegera mungkin membangun perpustakaan dan memanfaatkannya sebagaimana seharusnya perpustakaan sekolah berfungsi. Secara garis besar, ada dua hal yang perlu diperhatikan sebagai landasan dalam menyelenggarakan perpustakaan sekolah, yakni:

Pertama, penyelenggaraan perpustakaan sekolah seyogyanya terintegrasi dengan kegiatan belajar-mengajar yang dikembangkan sekolah, sehingga berbagai buku dan koleksi yang disediakan harus sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kebutuhan mengajar guru dan khususnya kurikulum sekolah.

Kedua, perpustakaan sekolah hendaknya dibangun dengan daya tarik tersendiri bagi siswa: bukan hanya dalam arti fisik dan koleksi buku yang tersedia, tetapi juga dalam proses pengelolaannya yang benar-benar atraktif, menarik bagi siswa, dan tidak malah menjadi perpustakaan sekolah layaknya rumah sakit yang lenggang, terlalu banyak aturan, sehingga malah membuat siswa enggan berkunjung ke sana.

Bagi kota metropolis seperti Surabaya, data tentang minimnya jumlah perpustakaan sekolah yang ada bukan saja memalukan, tetapi sekaligus juga merupakan tamparan yang seharusnya menyadarkan kita bahwa masih ada banyak hal yang harus dibenahi di bidang penyelanggaraan pendidikan. Sebuah sekolah yang tidak dilengkapi perpustakaan ibaratnya adalah sebuah komputer yang kehilangan soft ware-nya (*).

RAHMA SUGIHARTATI
Dosen Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) FISIP Universitas Airlangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: