Dari Kutuk Ayam ke Perpustakaan

14 Dec

Oleh: Sigit Susanto

http://www.penulism uda.com/index. php?option= com_content& task=view& id=398&Itemid= 42

Pada tahun 1988, saya berada di desa kelahiran, 30 km dari kota
semarang. Di desa kecil itu, tak berbeda dengan desa2 lain di jawa,
menurut kami remajanya terbagi dalam lima kelompok:
1. pelajar
2. non pelajar
3. remaja kauman
4. non kauman
5. remaja baru kawin

Pelajar biasanya mengelompok pada sesama pelajar, yang drop out, buta
huruf, ngumpul dgn senasibnya. yang tinggal di kauman (dekat masjid)
aktif mengaji, belajar alquran, kegiatan masjid, yg jauh dari masjid,
suka olah raga pd umumnya (sepak bola). Remaja yg sudah kawin/ baru
kawin, biasanya nongkrong di pinggir jalan, pos kamling, sbg tutor utk
bagi pengalaman sexualnya dgn istrinya, pendengar setianya adalah
remaja bujangan masih ting ting. Disini terjadi proses transformasi
pelajaran biologi, yang tak pernah diajarkan di sekolah, sehingga
lebih seru dan makin rame saja pendengar2 barunya.

Rumah saya kebetulan di tengah antara kelompok remaja kauman dan
remaja yang suka sepak bola. sedang yang non pelajar/buta huruf
biasanya minder kalau ketemu yang pelajar, apalagi dengan yang kos di
kota2. Saya mencoba ikut membaur nongkrong pada kelima kelompok itu,
ikut nonton wayang kulit, ndang dut di desa2 lain, pulang pagi. selama
kira2, 2 bulan membaur dengan kelompok2 mereka, saya berhasil menarik
mereka ( 5 orang) duduk2 lesehan di tikar di rumah saya dengan lampu
agak terang. mereka sangat beragam, ada santrinya, ada drop outnya,
ada buruh perkebunan karetnya, mahasiswanya, pelajar, juga pemain
sepak bolanya, ada keturunan tionghoanya. mereka membuat kesepakatan
sendiri, bila harus ada kegiatan sebagai “alat ikat” di antara kita.
tak mungkin rasanya mereka ditarik urunan uang, karena rata2 hidupnya
pas pasan. maka salah satu jalan keluarnya, masing2 kawan menitipkan
“kutuk” (anak ayam) di rumah saya. karena di desa hampir semua
keluarga punya ayam peliharaan. saat itu sedang rame2nya ternak ayam
buras (bukan ras). tak terasa dari mulut ke mulut, kawan2 berkumpol
mencapai 18 orang, masing2 orang menyumbang 2 anak ayam, terkumpullah
36 anak ayam. anak ayam ini sudah turun temurun (ber anak cucu),
hingga dijual, hasilnya tak seberapa secara materi, tapi “cooperation”
dan “kesadaran” di antara sesama anggota yg lebih penting. dari
kegiatan ternak ayam, kami beralih ke pendidikan anak2 desa.

Perpustakaan kecil
Dasar pertimbangan: anak2 desa suka main di tempat2 bahaya (sungai
dll), orang tua mereka rata2 petani, yang pendidikannya rendah dan
ekonominya pas pas-an. setelah punya kelompok sosial sendiri, kami
mulai melihat anak2 desa yang suka main di sungai atau sawah seusai
sekolah. timbullah ide mendirikan “perpustakaan kecil”.

Tapi dari mana buku2 itu kita bisa dapatkan?
ada saja ide muncol, kita meminjam pada warga desa, yang punya buku2
bekas, kami door to door, dengan suka cita, mendaftar nama buku,
judul, dan pemilik buku tersebut. pengalaman membuktikan, bila yang
sebagian besar punya buku banyak adalah keluarga guru, mereka banyak
menyimpan buku2 bercap depdikbud, mungkin lupa mengembalikan ke
sekolah atau sengaja lupa, tak terlalu penting bagi kami, alhasil dari
ujung desa ke ujung yang lain, kami berhasil mendapatkan buku sejumlah
300 buah. tentu kami sortir jenis dan kwalitasnya, buku bobo dan
sejenisnya, tentu tidak kami pinjam.
Suatu hari dibukalah perpustakaan kecil di rumah saya , strategis di
pinggir jalan. buku2 ditata rapi di rak yang panjang, dengan tikar di
tengah2, ruangan itu bekas warung bubur ibu saya. Anak2 SD berseragam,
baju putih, celana dan dasi merah, mampir, satu, dua, tiga anak,
akhirnya makin banyak saja. kami kewalahan ngatasi anak banyak. mereka
pada umumnya masih di SD umum/inpres (kelas 3,4,5). banyak yang
dipelajari dari sifat anak2, ternyata mereka cepat bosan. mereka
mengambil buku, dibolak balik, lalu ditaruh sesukanya, walau sudah
diberitahu. tiap hari buku2 selalu ditata rapi lagi. tak terasa, anak2
animo bacanya menurun, bahkan yg datangpun mulai sedikit. otak putar
lagi, mengapa mereka sedikit yg datang ?

Variasi kegiatan
Diambil kesimpulan, mereka jenuh, dengan buku yang sama. maka dicoba,
dengan variasi kegiatan anak2. kita bagikan kertas kosong, dan suruh
bawa alat gambar. mereka riang, rame berdatangan lagi. gambar bebas,
sesukanya, tak ada peraturan. kami dapat tambahan pengetahuan
psikology baru dari anak2 itu, kami amati, ternyata anak yang lahir
asli desa, suka gambar dua gunung terbelah dua, dengan jalan membelok2
yang ditumbuhi pohon rindang di sebelah kanan, sebelah kiri tiang
listrik tegak berdiri. persawahan dan laut yang ada ikan dan kapalnya.
ada anak yang pindahan dari kota , dia suka gambar mobil, kapal
terbang. psikologi anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dimana
mereka dibesarkan. mereka seusai gambar, menuntut agar gambar mereka
di tempelkan di tembok, indahlah ruangan perpus itu, warna warni
gambar menempel, plus di tiap ujung kanan kertas gambar tertulis nama
dan kelasnya, mereka sangat bangga, setiap datang ke sini, selalu
memandangi gambar dulu, lalu berargumen dengan kawan2 yang lain.
sebulan berjalan perpus anak2 ini, seorang ibu mendatangi saya, dia
mengucapkan terima kasih, bila anaknya nggak main di sungai lagi,
ibunya sangat kawatir, bila di musim hujan, banyak banjir di sungai,
dan di sawah sering ada ular. namun animo anak2 tetap menurun, kami
bingung menghadapi perubahan selera anak yang amat cepat itu, kami
coba lagi dengan memberi kertas tulis kosong, mereka kita minta utk
“mengarang bebas”, anak2 dengan duduk bersila di tikar, sambil bungkuk
mengarang sendiri2, kami perhatikan tingkah laku mereka, ada seorang
anak yang lari keluar, setelah waktu mengumpulkan hasil karangan tiba,
anak yang keluar ruangan tadi datang lagi dengan bawa karangan yang
sudah jadi. kami meminta agar masing2 anak membacakan karangannya,
sementara yang lain tenang mendengarkan. Rame dan hikmat, ada yang
tulis judul presiden, polisi, dokter, sopir, petani.

Terjadi insiden kecil, kenapa ?
Seorang anak yang sedang membaca menangis, dan meninggalkan tempat.
Kami sangat penasaran, kenapa tiba2 menangis. anak2 ini jujur sekali,
mereka tidak setuju, karena ada anak yang nyontek karangan persis di
buku sekolah, (dia adalah yang keluar ruangan tadi, saat membuat
karangan, dan kembali lagi, sambil nyerahkan hasil karangan, rumah
anak itu nggak jauh, anak tetangga saya) anak2 yang jujur ini
menghendaki hasil asli dari diri sendiri. mengarang pun bosan, terus
gimana lagi ? kita coba dgn buat puisi, mereka kerjakan dengan senang
dan antusias, bahasanya sederhana, tapi ada yang berbunga2, kami tata
rapi hasil karangan dan puisi mereka. sekali2 kita lihat bersama dan
baca bersama. beberapa hari perpustakaan kosong, kemana anak2 semua
itu, kami cari, di kampong2 eh….ternyata mereka lagi manjat pohon
jambu, mereka cari anak burung dengan ketepel, cari ikan di sungai
kecil. mereka tak tertarik lagi ke perpustakaan, setelah lihat kami,
mereka bilang;….. .enak main2 aja , mas, males ah ngarang terus, di
sekolah juga udah diajarkan. kami sudah kewalahan mencari akal lagi,
mencari buku2 lain, rasanya nggak mungkin, karena desa kami kecil.
kami cari jalan keluar untuk menarik mereka di perpustakaan. dengan
cara membuatkan ban2 sepeda bekas dan digantung di bawah pohon dekat
perpustakaan (10 meter jaraknya, antara tempat main dengan
perpustakaan) . sementara buku tak diganti yang baru, anak2 makin asyik
maen2 terus, nggak lagi ditengok perpustakaan itu. Di sinilah akhir
secangkir pengalaman mendirikan perpustakaan kecil di desa, buku2 kami
kembalikan pada pemiliknya semula. banyak hambatan dan tantangan. Dari
anak ayam sampai ke perpustakaan.
mudah2 an bagi kawan2 yang masih bermukim di desa di mana pun, bisa
mencoba cara seperti ini, tentu dengan banyak ide2 lagi yang lebih
menarik. banyak anak desa yang menunggu, idealisme kita, selamat!

***jangan buat kepalamu sebagai perpustakaan, tapi realisasikanlah
idemu****(Vivi kananda)

sigit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: