TOTALITAS SEORANG PENULIS DALAM MEMERANGI KEBATILAN

12 Dec

[Sejarah berdirinya Mujahid Press ]
Oleh: Gola Gong

Ketika pada 1987 saya memutuskan hidup dari menulis, orangtua saya
mengingatkan:
“Bagaimana kalau kamu kehabisan ide?”
Saya sempat berpikir keras untuk menjawabnya.
Lalu pertanyaan lain muncul lagi,
“Kalau Allah mentakdirkan kamu kecelakaan, sehingga otakmu tidak bisa
dipergunakan, bagaimana?” Begitutah orangtua saya, selalu menyuruh
anak-anaknya berpikir luas, agar kalau terjadi sesuatu yang buruk
terhadap diri kita, antisipasinya sudah kita siapkan. Itu bukan soal
mendahului kehendak Allah SWT. Kami – anak-anaknya – diharuskan
berpikir beberapa langkah ke depan.

Orangtua saya adalah guru. Awalnya mereka menyodorkan, bahwa jadi guru
itu enak, karena di hari tua akan mendapatkan pensiun. Tapi, jadi
penulis? Saya bisa memahami kekhawatiran orang tua, bahwa di Indonesia
pada masa itu minat beli dan baca masyarakat pada buku-buku fiksi
sangatlah kurang. Jawabannya, memiliki pekerjaan tetap adalah yang
terbaik. Urusan keluarga diselamatkan dulu, sehingga saya bisa
berkonsentrasi menulis novel tanpa harus dibebani urusan dapur. Saya
pikir, ini adalah sebuah kompromi di era industri. Ya, saya memilih
bekerja di dunia industri, sehingga idealisme saya bisa saya subsidi.
Memiliki pekerjaan tetap bagi saya sama saja dengan memelihara mimpi
memiliki penerbitan sendiri.

Untuk kebahagiaan orang tua dan mendapat ridho dari mereka, saya
memilih bekerja menjadi wartawan. Pekerjaan itu masih seputar dunia
tulis- menulis. Saya betul-betul enjoy menjadi seorang wartawan,
karena selain menulis berita, feature, juga tetap bisa menulis cerpen
atau novel. Bahkan saya semakin banyak mempunyai ide menulis fiksi
dari berita-berita atau feature yang saya tulis. Dari penghasilan
bulanan yang tetap itu, saya masih bisa mensubsidi mimpi saya yang
tertuda, membuat penerbitan sendiri (menerbitkan jurnal, antoloji
puisi, serta koran lokal), walaupun tidak berumur panjang karena
kendala SDM dan modal.

Kini saya bekrja di RCTI sebagai creative team. Pekerjaan itu tetap
tidak jauh dari dunia tulis-menulis yang sejak awal saya geluti.
Setiap hari saya membuat usulan program dan mendiskusikannya. Bahkan
di sela-sela waktu luang, saya masih bisa mengembangkan ide-ide itu
menjadi novel. *** Tanpa diduga, di awal September 2005 saya mendapat
paket dari Mujahid Press. Saya sudah lama mengenal penerbitan dari
Bandung selatan ini dengan buku “Kudung Gaul, Berjilbab tapi
Telanjang” karya Abu al-Ghifari (nama pengarang ini sebetulnya pernah
hendak saya pakai, karena anak ketiga saya bernama “Jordi Al
Ghifary”).

Lebih terkejut lagi saya, ketika di dalamnya selain ada buku-buku
terbitan terbaru Mujahid, juga manuskrip calon buku berjudul “Peta
Harta Karun: Sukses Mengelola Penerbitan dengan Self Publishing” karya
Toha Nasrudin S.Ag alias Abu Al- Ghifari. Saya buka halaman demi
halamannya dengan perasaan berdebar- debar. Mimpi saya yang tertunda;
memiliki penerbitan sendiri mendesak- desak lagi, seolah hendak
menjebol dinding dadaku! Bakal buku ini secara rinci menjelaskan
perjuangan Toha mendirikan Mujahid Press dari awal (Toha menyebutnya
“dari lumpur ke buku”). Saya betul-betul tercengang! Hanya dalam waktu
lima tahun, omzet Mujahid mencapai 5 milyar rupiah! Subhanallah! Abu
Al-Ghifari sudah mewujudkan keinginannya memiliki penerbitan sendiri
(self publishing), sedangkan saya bertahun-tahun masih saja bermimpi
memilikinya. Dan ketika saya membaca Bab III buku ini, bahwa jika
mengikuti petunjuk di buku yang sedang Anda baca, lima atau sepuluh
tahun ke depan penerbit yang saya impikan, insya Allah akan terwujud.

Subhanallah, saya sangat antusias jadinya! Pesannya sangat sederhana,
jika ingin memiliki penerbitan sendiri, apa pun latar pendidikannya,
syaratnya ada dua; motivasi yang lebih (antusiasme) dan konsentrasi!
Saya jadi ingat Sofia Ahmad, distributor sukses Tupperware Indonesia,
yang percaya bahwa direct selling sesungguhnya bisa memberdayakan kaum
perempuan Indonesia. Sofia sangat yakin, kalau kita fokus pada sesuatu
yang kita geluti pasti bisa! Sedangkan Gede Prana mengingatkan, bahwa
kunci keberhasilan seseorang itu terletak pada keyakinannya. “Walau
pun sebetulnya potensinya rendah, tapi jika dibarengi dengan raksasa
keyakinan, maka orang itu akan behasil. Tapi sebaliknya, potensi
tinggi minus keyakinan, gagallah orang itu!” Rupanya itulah yang
melekat pada seorang Toha; motivasi dan konsentrasi yang membuatnya
merasa yakin, bahwa jika menerbitkan buku sendiri segala kendala
klasik yang dialami penulis; misalnya jadi atau tidaknya buku
diterbitkan, royalti yang macet, oplah yang tidak jelas, akan
teratasi. Kata Toha, “Menerbitkan buku dengan penerbitan sendiri
adalah jalan pintas terbaik.”

Sejak berdirinya Mujahid Press pada 2001 (didaftarkan ke notaris pada
September 2003), Toha tidak pernah berpaling ke lain hati alias tetap
pada koridor antusiasme dan konsentrasi! Hasilnya kini terlihat, omset
Rp 5 Milyar! Siapa yang tidak tergiur? Bagi saya self publishing atau
trend sebagai indi label sangatlah menantang. Kawan-kawan kita di
Yogya sedang giat mengoptimalkan ini. Berbekal kantor ukuran kamar
kost dan sebuah komputer, mereka meggempur penerbit-penerbit raksasa
di Jakarta dan Bandung. “Supernova” karangan Dee dilahirkan dari
spirit rahim self publishing. “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan
awalnya juga nge-brojol dari ibu bernama self publishing sebelum
dicaplok ibu raksasa. Toha sewaktu muda tak ubahnya saya sewaktu muda
juga.

Saat saya SMA, dengan mesin stensilan dan fotokopian membuat buku
puisi. Spirit ingin menjadi boss kecil begitu kuat pada diri Toha,
sehingga pada 2001 menerbitkan buku karangannya sendiri; Muslimah yang
Kehilangan Harga Diri. Dengan modal Rp.1.500.000,- Toha mengerjakan
semua prosedur percetakan sendirian; editing, setting, lay out secara
manual dan mencari kertas murah. Kemudian dari kampungnya di
Pameumpeuk ke Bandung untuk di-plate kertas. Toha pun mencari
percetakan yang mau mencetak 1000 eksemplar saja dengan harga murah.
Usai itu, Toha begadang menyatukan lembar perlembar halaman. Semuanya
dikerjakan sendiri. Heroik! Mengingatkan saya pada kisah-kisah sukses
seperti Ciputra, Bob Sadino, dan Lim Sioe Liong. Bermula dari yang
kecil, kemudian jadi besar. Semuanya dibarengi dengan sikap sabar;
berdoa dan berusaha. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, jika
orang itu tidak berusaha. *** Selain antusiasme dan konsentrasi, yaitu
totalitas. Saya merasakan Toha memiliki totalitas itu sejak di usia
belia, saat sekolah di tsanawiyah. Dia rela mengabiskan masa kecil dan
remajanya di aliyah (Pesantren Persis Bandung) dengan berjualan kue
dan tidur di teras mesjid, sementara teman-temannya bergembira. Betapa
romantik dan heroik perjalanan hidupnya. Bukankah orang-orang besar
dibentuk oleh penderitaan?

Di lingkungan para penulis Forum Lingkar Pena, saya mendengar Arlen
arya Guci juga orang yang menderita. Bahkan sastrawan Johny Ariadinata
pernah mengayuh becak dan jadi marbot mushola! Ya, penderitaan telah
menempa seorang Toha menjadi manusia berbeda. Dan perpustakaan umum
Bandung di Cikaundung berhasil menariknya menjadi manusia gila
membaca. Saat di IAIN SGD Bandung, Toha menceburkan diri di penerbitan
kampus. Sungguh, inilah cikal-bakal darinya untuk menggapai tangga
kesuksesan. Proses kreatifnya sudah dia lakkan sejak masa kecil; saat
dengan kaki telanjang menjajakan kue kampung; bala-bala, perkedel, dan
pisang goreng. Saya mulai memahami, bahwa Mujahid Press bukanlah
keinginan Toha dalam waktu semalam, lalu… sim salabim.. jadilah ia!

Tapi, Mujahid Press adalah pergulatan dan totalitas seorang Toha
sepanjang hidupnya. Saya ingin mengikuti langkahnya. Dan kita semua
harus berada di sekelilingnya, mendoakannya selalu, karena Mujahid
Press bagi Toha bukan semata-mata menumpuk harta, tapi berdakwah dan
berjihad lewat tulisan di dalamnya. Perang melawan kebatilan sudah
ditunjukkan Toha, ketika dia menolak harus memberi uang pelicin
sebesar Rp 6 jt untuk jadi guru SMP dan Rp 8 jt jadi guru SMA. Mari! ”

Gola Gong
Ketua Umum Rumah Dunia, pusat belajar bagi anak-anak, pelajar, dan
mahasiswa di Komplek Hegar Alam, Kampung Ciloang, Serang- Banten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: