MENERBITKAN BUKU SENDIRI, MENGAPA TIDAK?

12 Dec

by  Her Suharyanto
http://pembelajar.com/wmprint.php?ArtID=1022

“Yang paling menyebalkan di seluruh dunia ini adalah penerbit.” Saya
tertawa ngakak membaca kalimat jenaka ini. Saya tertawa ngakak karena
di tengah novelnya yang mengalir tiba-tiba saja Andrea Hirata
melemparkan metafora tersebut, secara tak terduga.

Pasti penulis muda yang saya kagumi ini punya pengalaman menyebalkan
dengan penerbit. Saya tidak tahu apa pengalaman itu, tetapi saya
mencoba menduga-duga: jangan-jangan dia harus berurusan dengan editor
bawel, orang marketing yang sok tahu, atau terkejut-kejut membaca draf
kontrak yang menyebut royalti 8% atau 9%, dan itu pun masih ditambahi
dengan komentar super sadis, “Anda kan penulis pemula… Kami belum
tahu buku Anda laku atau tidak.”

Mungkin itu sebabnya banyak penulis yang tidak mau repot berurusan
dengan penerbit, dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ini bukan hanya
terjadi di Indonesia. Di banyak negara praktik self-publishing
berkembang cukup pesat. Saya bergabung dengan milis self-publishing
yang anggotanya sudah lebih dari 2000 orang. Beberapa milis
self-publishing lain yang tidak saya langgani ada yang beranggotakan
700-an orang, ada yang 300-an orang. Saya sempat melakukan survei
kecil di milis yang saya langgani, ternyata 80-an persen anggota
adalah self-publisher, dan 20-an persen sisanya adalah penyedia
layanan seperti editor, desainer grafis, dan distributor.

Di dalam negeri saya juga kenal beberapa self-publisher secara
pribadi, tahu bahwa sejumlah buku diterbitkan secara mandiri, dan
pernah juga melakukan hal yang sama. Dari beberapa self-publisher,
akhirnya saya tahu beberapa alasan mengapa mereka memilih menjauh dari
penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang
beralasan bahwa penerbit konvensional memang rewel. Menekan penulis
pemula dengan royalti 8% apakah hal yang menggembirakan?

Ada juga orang yang menerbitkan buku sendiri karena memiliki keyakinan
yang berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa satu buku
layak pasar, tetapi sang penulis sendiri sangat yakin bukunya sangat
layak pasar. Karena itu ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri
bukunya baik karena sudah bertabrakan dengan penerbit konvensional,
tetapi ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau
demikian. Bagaimana hasilnya? Hasil harus dilihat berdasarkan tujuan.
Ada yang tujuannya adalah agar bukunya sekadar terpajang di toko buku,
ada yang sadar bahwa pasarnya sempit sehingga penerbit pasti tidak mau
menerbitkan, ada yang punya tujuan ekonomi (marah dengan royalti
8%-10%), ada pula yang bertujuan agar bukunya bestseller. Dalam
praktik semua tujuan itu ada, dan banyak yang berhasil berdasarkan
tujuan itu. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ
terjual lebih dari 250.000 eksemplar, bukan? Anda juga ingat bahwa
berapa kali cetakan awal Supernova-nya Dewi Lestari juga diterbitkan
dengan cara ini, bukan?

Mungkin Anda bertanya, tidakkah ini merepotkan? Secara teknis pasti
tidak sulit. Anda sudah punya naskah. Maka langkah berikutnya tinggal:
mengedit, me-layout, mengirim ke percetakan dan memilih distributor.
Pengiriman ke distributor serahkan pada percetakan, pengiriman ke
toko-toko buku serahkan pada distributor. Setelah itu kita tinggal
menunggu laporan penjualan dari distributor.

Self-publishing membuka banyak kemungkinan baru bagi para penulis, dan
caranya pun mudah. Namun toh banyak penulis yang belum tahu bagaimana
caranya. Kami sendiri awalnya sempat bertanya kesana kemari mengenai
bagaimana teknis dan kelayakan penerbitan mandiri seperti ini.

Sadar bahwa ada kebutuhan akan hal itu Sekolah Penulis Pembelajar
(SPP) akan menyelenggarakan workshop satu hari mengenai bagaimana
menjadi self-publisher.

Secara umum workshop ini akan membahas beberapa hal seperti:
• Alasan mengapa perlu menerbitkan buku sendiri
• Kelayakan dari sisi ekonomi dan peluangnya
• Dasar-dasar penyuntingan
• Dasar-dasar perwajahan buku
• Pengurusan ISBN buku
• Seluk-beluk percetakan dan pencetakan
• Memilih distributor
• Teknik mempromosikan buku

Siapa yang perlu hadir dalam pelatihan ini? Setiap penulis yang
memiliki semangat kewirausahaan tentu akan berkepentingan. Penulis
yang sebel dengan penerbit, mari bergabung. Terutama lagi penulis yang
memiliki komunitas sendiri dan komunitasnya besar, self-publishing
memang untuk Anda.[her]

* Her Suharyanto adalah editor ekonomi, penulis buku, praktisi
penerbitan, dan trainer SPP. Ia dapat dihubungi di :
her@suharyanto.com.

4 Responses to “MENERBITKAN BUKU SENDIRI, MENGAPA TIDAK?”

  1. sulistyani February 4, 2008 at 4:23 am #

    pak her,

    saya tertarik dengan workshop tersebut. menjadi self publisher. kapan rencananya? mohon info lebih lanjut. terima kasih.

  2. erlita lenni February 14, 2008 at 11:52 am #

    saya tertarik dengan workshop tersebut, menjadi self publisher, karena saya penulis awam dan pemula, kapan rencananya? mohon info lebih lanjut. terima kasih.

  3. Her Suharyanto July 1, 2008 at 9:23 am #

    waduh, tulisan saya sampai di sini… senang sekali rasanya. Mbak Sulistyani dan Mbak Erlita, boleh hubungi saya di alamat email di atas kalau memang tertarik pada workshop ini.

  4. amirstanishev May 20, 2009 at 5:24 pm #

    wah sangat membantu nih, ada ide percetakan murah? kaya yang johru bilang? trus milih distributornya gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: