Perempuan dan Teknologi Informasi

7 Dec

Siti Nur Aryani

KONDISI global perkembangan teknologi informasi secara
makro menuntut para pekerja teknologi informasi untuk
menciptakan, menerapkan, dan menggunakan teknologi
informasi secara maksimal.

SAYANGNYA, kaum perempuan kurang tampil apalagi menduduki
posisi strategis dalam bidang-bidang teknik, termasuk
bidang teknologi informasi (TI) ini. Sebagai gambaran,
perempuan Asia yang memanfaatkan Internet sekitar 22
persen, Amerika Serikat sekitar 41 persen, Amerika Latin
sekitar 38 persen, dan Timur Tengah sekitar 6 persen.

Di Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
memperkirakan kaum perempuan yang memanfaatkan teknologi
Internet pada tahun 2002 hanya 24,14 persen.

Peran perempuan dalam ketenagakerjaan TI lebih banyak pada
posisi administratif, seperti menangani surat elektronik,
memasukkan data, atau operator komputer. Masih sedikit
perempuan pada posisi tenaga ahli dan profesional, apalagi
dalam struktur pengambilan keputusan dalam industri TI.

Berdasarkan pengalaman, tidak banyak perempuan berperan
sebagai ilmuwan komputer dan programmer. Penyebab keadaan
ini adalah karena kesenjangan jender di dunia industri.
Meskipun, di sisi lain hal ini mendorong perempuan lebih
tampil di bidang penelitian dan pengembangan sistem.

Kendala untuk perempuan

Kendala yang dihadapi perempuan dalam memasuki dunia kerja
bidang ini ada beberapa faktor. Pertama, asumsi keliru
menyangkut profesi. Ada persepsi yang dimitoskan bahwa
bidang TI sulit ditembus. Sering perempuan memiliki
anggapan bahwa untuk memasuki dunia TI harus memiliki
pendidikan tinggi dan kemampuan teknik khusus.

Kedua, kurangnya motivasi. Individu perempuan memiliki
motivasi lemah untuk studi dan memiliki karier di
keteknikan. Penyebabnya bisa jadi karena kurang memiliki
peran contoh dalam profesi teknik. Para guru pun bisa jadi
masih memberi penerangan yang bias jender seakan kaum
laki-laki harus lebih menguasai ilmu matematika daripada
perempuan.

Kelompok perempuan sering menerima perlakuan model
pengajaran berbeda dari kelompok laki-laki yang
menyebabkan mereka kurang meminati matematika, misalnya.

Hal ini masih ditambah dengan kurangnya dorongan dari
orang-orang di rumah. Latar belakang basis pekerjaan
anggota keluarga dan aspirasi orangtua terhadap anak
perempuannya tidak mempertimbangkan karier di dunia teknik
sebagai suatu pilihan.

Ketiga, kurangnya kesempatan dan akses. Dalam kelompok
masyarakat ekonomi minim, penyebaran komputer sangat
kurang, terutama ketika harus berebut dengan kebutuhan
sehari-hari. Hal ini terjadi di sekolah maupun di rumah.
Perlengkapan komputer di sekolah kurang atau bahkan tidak
ada, begitu pula tenaga gurunya.

Keempat, keahlian yang tidak memadai. Pencapaian keahlian
yang memadai menjadi permasalahan bagi semua tanpa
kecuali. Perusahaan sering merekrut tenaga kerja dengan
kualifikasi kemampuan tinggi dalam beberapa keahlian
sekaligus, seperti bahasa pemrograman dan aplikasi.

Pendidik di bidang teknik yang sering secara halus membuat
perlakuan bias terhadap perempuan juga menjadi penyebab
rendahnya minat perempuan dalam bidang TI.

Perempuan pun memiliki jaringan pengembangan potensi lebih
kecil daripada laki-laki, baik di sekolah maupun di
komunitas bisnis yang bisa menyebabkan sulitnya perempuan
menembus posisi senior di perusahaan. Bagaimanapun,
industri TI tumbuh dalam dominasi budaya kaum laki-laki.

Beberapa peneliti memberi catatan khusus tentang bentuk
halus diskriminasi dalam lingkungan TI. Beberapa
perusahaan TI memiliki persepsi bahwa calon pekerja
perempuan kurang memiliki potensi lebih untuk
mendedikasikan diri pada pekerjaan karena kecenderungan
perempuan terhadap anak dan keluarga.

Sama halnya ketika ada persepsi bahwa perempuan kurang
layak bekerja lembur, malam hari, dan pada akhir minggu.

Upaya membantu

Diperlukan mitra kerja dan organisasi nirlaba yang
membantu perempuan secara khusus untuk mengatasi persoalan
kesenjangan akses terhadap pendidikan dan ketenagakerjaan
di bidang TI.

Sebagai contoh, Amerika Serikat memiliki lembaga yang
khusus menjadi mediator dan fasilitator untuk mengatasi
masalah ini. Lembaga itu di antaranya National Science
Foundation Program for Women and Girls in Science,
Engineering, and Mathematics. Lembaga ini memfokuskan pada
motivasi dan aktivitas inovatif meningkatkan perekrutan
dan keterlibatan perempuan dan remaja putri dalam
pendidikan dan keilmuan, teknik, dan matematika.

MentorNet adalah program penasihat nasional industri
elektronik untuk perempuan, baik untuk yang telah
menyelesaikan maupun tidak menyelesaikan pendidikan mereka
dalam ilmu dan teknik. Lembaga ini membuat suatu hubungan
antara siswa dan mentor sukarela dari industri serta
perusahaan tertentu via surat elektronik.

Proses yang diperoleh dari pengalaman profesional para
sukarelawan industri ini membantu siswa dalam memiliki
kesempatan karier, bimbingan belajar, dan nasihat yang
didasarkan pada pengalaman, dukungan, semangat, dan akses
terhadap jaringan profesional
(www.advancingwomen .com/wk_mentorne t.html).

Program lembaga tersebut berjalan melalui kelembagaan,
seperti Women in Engineering Programs & Advocates Network
(WEPAN), kolaborasi antara Association for Women in
Science (AWIS), Society of Women Engineers (SWE),
University of California Berkeley, Carnegie-Mellon
University, Dartmouth College, dan San Jose State
University.

Lembaga bantuan bagi kaum perempuan itu memiliki program
yang jelas. Setiap program dikemas dalam proyek seperti
Project Edge yang menargetkan generasi muda perempuan
dalam masa transisi pendidikan.

Lembaga lain yang memiliki tujuan serupa dalam
meningkatkan peran dan keterlibatan serta menghapus
kesenjangan kaum perempuan dalam ilmu dan teknik,
khususnya teknologi informasi bisa dilihat di situs
seperti http://www.wall2.rit.edu/edge,
http://www.edc.org/CCT/telementoring,
http://www.cra.org/Activities/craw, http://www.womenswork.org/girls,
http://www.ehr.nsf.gov/EHR/HRD/women, dan http://www.awis.org.

Untuk merespons perkembangan TI yang cepat, keterlibatan
perempuan adalah keharusan alamiah. Oleh karena itu,
pendidikan dan karier keteknikan harus dimulai sejak dini.

Matematika dan program keilmuan harus didesain untuk
mengakomodasi gaya pembelajaran untuk anak-anak dan remaja
perempuan. Pembenahan yang perlu dilakukan menyangkut
kurikulum dan pendidikan tambahan semacam kursus aljabar,
geometri, kimia, dan fisika. Selain itu, diperlukan
peningkatan kemampuan kognitif di bidang TI.

Para guru dan mentor harus memberi informasi yang baik
dalam membantu menyalurkan pendidikan dan karier TI
perempuan. Industri yang ada membentuk perkembangan
ekonomi dengan mitra kerja untuk pelatihan dan program
asistensi.

Pemerintah harus terlibat penuh dan terus waspada,
melakukan aksi yang tepat ketika fakta menunjukkan adanya
diskriminasi dalam program keteknikan, baik di pendidikan
tinggi maupun di dunia kerja.

Siti Nur Aryani Praktisi Teknologi Informasi Fokus Usaha
Solusi Jakarta

Sumber :
Kompas.com

2 Responses to “Perempuan dan Teknologi Informasi”

  1. Anna Satriana December 10, 2007 at 7:36 pm #

    Ok…

  2. kepala perpustakaan December 10, 2007 at 8:20 pm #

    kalau sudah menyangkut masalah TI harusnya kita sudah tidak lagi bicara tentang gender. karena apa, because what… biarpun laki2 maupun perempuan yang bisa menguasai TI tersebut maka dia layak untuk mendapat pekerjaan TI tersebut. atau contoh lainnya yang kesenjangan harus bisa dihapuskan yaitu ketika. saya dan Josh bush melakukan online… maka yang terjadi sudah jelas…
    sudah tidak ada lagi kelas sosial. yang membedakan hanya kemampuan kita menggunakan fasilitas dari TI itu sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: