Harga Buku yang Lebih Terjangkau

23 Nov

Diterbitkan September 24, 2006 RUU Perbukuan

Media Indonesia Minggu, 24 September 2006
PEMERINTAH dan DPR tengah membuat terobosan agar khazanah perbukuan
kita lebih bergairah. Upaya itu dilakukan melalui Rancangan
Undang-Undang (RUU) Perbukuan. Harapannya, dengan RUU itu, harga buku
akan menjadi jauh lebih murah, jauh lebih terjangkau, sehingga minat
baca masyarakat dapat lebih meningkat.

Untuk menunjang misi itu, dalam RUU Perbukuan digagas kemungkinan agar
pemerintah dapat membeli hak cipta (copy right) naskah buku dari
penulis. Naskah itu kelak dimasukkan ke situs web. Di situs web
itulah, semua orang dapat mengambil, mencetaknya, tanpa harus meminta
izin dari penulis maupun Depdiknas. Bahkan, tanpa harus membeli
bukunya di toko buku.

Tentu, terobosan yang menggembirakan, yang datang pada saat yang
tepat. Yaitu, pada saat masyarakat terus mengeluh soal mahalnya harga
buku. Pada saat biaya pendidikan kian tidak terjangkau. Dan pada saat
itu, pemerintah datang dengan solusi, mencoba meringankan beban
rakyat.

Yang kita harapkan ialah niat baik itu berjalan efektif di lapangan.
Kita tidak ingin upaya luhur itu justru menambah anomali dalam sistem
perbukuan nasional. Sehingga persoalan perbukuan yang sudah sangat
kompleks menjadi bertambah rumit.

Harus dipikirkan benar agar pembelian hak cipta naskah buku tidak
merusak sistem yang telah saling menopang. Dari penulis, penerbit,
percetakan, hingga distribusi. Juga harus diupayakan agar tidak
sekadar indah saat masih dalam gagasan, tetapi tidak membawa
kemaslahatan setelah diterapkan.

Naskah yang dibeli hak ciptanya, katakanlah, sudah dimuat dalam situs
web. Masyarakat boleh mengambilnya. Lantas, berapa banyak rakyat yang
bisa memanfaatkannya terkait dengan jumlah melek internet? Akankah
biaya mencetak naskah itu lebih murah daripada harga buku? Bagaimana
dengan harga kertas yang mahal? Bagaimana bila ada yang mencetak
naskah itu menjadi buku dan menjualnya ke pasar?

Harus dipikirkan pula jenis buku apa saja yang akan dibeli hak
ciptanya. Misalnya, buku yang belum pernah terbit, buku yang pernah
terbit tetapi tidak ada di pasar, atau buku yang sudah terbit dan
masih ada di pasar. Karena keputusan itu akan berdampak kepada banyak
kepentingan terkait.

Banyak masalah yang belum terjawab, tetapi upaya untuk membuat harga
buku lebih murah harus didukung. Sebab, buku adalah sumber ilmu. Bila
harga buku terjangkau, kita berharap minat baca dapat dipacu lebih
meningkat. Bila minat baca meningkat, akan meningkat pula kualitas
sumber daya manusia kita. Karena itu, kelak pemerintah harus
meningkatkan efektivitas dan efisiensi proyek ini dari hulu sampai
hilir sehingga cita-cita luhur itu benar-benar menjadi kenyataan di
tingkat rakyat.

Jangan sampai niat luhur itu sekadar menjadi wacana. Jangan pula
iktikad baik itu berkembang menjadi kerumitan baru. Karena, alih-alih
membuat harga buku menjadi murah, kita khawatir, pola itu hanya akan
melahirkan sistem perbukuan yang murahan.

One Response to “Harga Buku yang Lebih Terjangkau”

  1. A ziE_zAh December 6, 2007 at 6:13 am #

    bagus juga tuh,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: