Hangat-Hangat Tahi Ayam

23 Nov

Kompas, 19 November 2005

oleh Jakob Sumardjo,

Sejak Jaman Orde Baru, di Indonesia ada banyak cerita, tetapi tidak
ada pengakhirannya. Banyak cerita duka tidak selesai. Semua cerita
menyedihkan dari bangsa ini berakhir open ending. Setiap orang boleh
membubuhkan akhir cerita itu. Kita ini bangsa tanpa ingatan, tanpa
sejarah.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang hangat-hangat tahi ayam. Ribut
bukan main jika suatu peristiwa sedang berlangsung, dari gaji DPR
yang melambung hingga pemenggalan kepala siswa-siswi di Poso,
Sulawesi Tengah
. Hampir semua orang yang masih merasa punya pikiran
mengemukakan pendapatnya. Dan jika pendapat itu dibantah, ia marah,
seolah kebenaran itu hak monopolinya.

Mengapa bangsa ini mudah terbakar sesaat? Mengapa kita menyukai
hangatnya tahi ayam? Suatu persoalan belum selesai diceritakan sudah
beralih pada cerita lain. Ini tak lain karena bangsa ini masih hidup
dalam kebudayaan lisan. Kita belum memasuki periode bangsa literer,
bangsa suka membaca. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih
mengandalkan epistemologi pengetahuannya, kesadarannya, dari
mendengar dan menonton. Bangsa dengan budaya lisan yang menonjol.

Hanya Permukaan
Budaya lisan itu terbatas ruang cakrawalanya, yakni hanya mengenal
dimensi ruang dan waktu sesaat. SIkap hdup semacam ini menggantungkan
diri pada kesadaran kolektif, bukan solidaritas umum yang universal.
Perspektif pandangannya pendek. Dan karena epistemologinya lisan,
emosi lebih berperan daripada pikiran rasionalnya. Segala sesuatu
hanya dilihat permukaannya, yakni yang terindera. Orang-orang semacam
ini biasanya tidak punya jarak dengan obyek-obyek yang inderawi.
Subyek mudah sekali menjadi obyek. Prinsip partisipan. Peristiwa
dilihat sebagai peristiwa inderawi, tidak pernah bisa menangkap
substansinya. Dunia ini isinya keanekaragaman, aneka perbedaan.
Mereka tidak mampu melihat struktur-struktur peristiwa.

Budaya ini berbeda dengan mereka yang literer. Manusia literer mampu
berpikir abstrak, melihat substansi peristiwa. Cakap dalam melihat
hubungan-hubungan peristiwa dalam strukturnya yang tetap. Orang
begini tidak mudah dihasut karena tidak melihat berdasar inderawi,
tetapi akal budi. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu
di luar dirinya. Segala sesuatu dilihat obyektif, apa adanya, bukan
bagaimana tampaknya. Orang-orang ini kritis, berbuat setelah matang
pemikirannya karena ia melihat perspektif aneka kemungkinannya.

Budaya lisan ini bukan hanya menghinggapi mereka yang kurang
pendidikannya, tetapi juga mereka yang sudah mencapai gelar
pendidikan tinggi. Dengan mudah kita bisa melihat bagaimana demo kaum
terpelajar tak ubahnya seperti demo kaum gelandangan. Baku tinju kita
lihat di meja-meja dewan perwakilan, di ruang pengadilan, di gerbang
kekuasaan. Semua ini memalukan karena kita kembali ke zaman primitif,
kapan budaya lisan kolektif masih hidup segar. Semua persoalan
diselesaikan dengan emosi partisipasi secara wadag. yakni kekerasan.
Manusia menanggalkan akal budi untuk memenangkan kebenarannya
sendiri.

Manusia lisan mengandalkan kesadarannya diisi radio dan televisi,
mengobrol, gosip, SMS, pidato, koran kuning, tabloid dan gurauan-
gurauan. Semua ini gejala-gejala permukaan yang diangkat menjadi
persoalan substansial. Tontonlah acara televisi sekarang ini, isinya
gosip melulu. Acara-acara dialog para pakarnya, yang kadang kemasukan
juga pakar gosip.

Lihatlah pemandangan di kampus-kampus. Para mahasiswa cukup
menyelipkan selembar buku catatan di saku belakang celananya. Mereka
alergi terhadap buku-buku tebal sehingga tak pernah menyentuhnya
apalagi membacanya. Perpustakaan kampus sepi pengunjung, juga dari
dosen-dosennya. Komik dan tabloid pun malas dibelinya. Acara favorit
mereka kalau bukan kriminal, ya celoteh kaum selebriti.

Orang-orang literer
Orang-orang literer, menurut hasil penelitian Kooyman tahun 1970, di
Indonesia hanya dua persen dari sekitar 100 juta orang dewasa. Mereka
ini orang-orang yang gila baca. Bukan hanya spesifikasi bidang ilmu
saja yang dibaca, melainkan juga buku-buku yang mengasah budaya
intelektualnya. Tiga puluh lima tahun kemudian mungkin jumlah kaum
literer semaca ini sudah meningkat tiga atau empat kali, tapi belum
mencapai 10 persen penduduk Indonesia.

Fenomena segera terlihat saat kita mampir ke toko-toko buku. Sebuah
buku rata-rata dicetak 2.000 sampai 3.000 eksemplar dan baru habis
setahun atau dua tahun kemudian. Lihatlah eksemplar surat kabar yang
paling terkenal di Indonesia pun, tirasnya tidak mencapai 10 persen
dari jumlah penduduk dewasa sekarang ini.

Beban kelisanan bangsa sepenuhnya ada di tangan kementrian
pendidikan. Bagaimana membuat generasi muda kita melek baca dan bukan
melek huruf. Dulu, tahun 1950-an, di beberapa kecamatan didirikan
perpustakaan rakyat. Tahun 1960-an perpustakaan semacam itu lenyap,
diganti sejumlah perpustakaan swasta yang diisi buku-buku komik atau
novel picisan. Gejala ini kian mendorong manusia Indonesia menuju
budaya lisan. Manusia yang malas mengasah akal budi dan gemar
memanjakan diri dengan imaji-imaji kenikmatan dan kemudahan.

Kita lebih bangga membangun mal dan supermarket daripada gedung-
gedung perpustakaan. Bahkan, pemerintah dan departemennya menjauhi
buku-buku. Mereka hanya membaca laporan-laporan resmi dan acara
televisi. Bung Karno dahulu menyurati sastrawan Iwan Simatupang dan
Sutan Syahrir dipanggil oom oleh Chairil Anwar, seperti John Kennedy
rajin membaca puisi-puisi Robert Frost. Kini para pejabat lebih kenap
penyanyi, pelawak dan pemain sinetron daripada Pramudya Ananta Toer
yang sering dicurigai.

Bertandanglah ke rumah-rumah para pemimpin kita, di ruang tamunya
penuh hiasan suvenir luar negedi dan potret-potret keluarga serta
dirinya. Pemandangan begini berbeda dengan zaman Bung Hatta,
Nasution, Syahrir, Natsir, Bung Karno, Rendra, Pramudya, dan Arifin C
Noer yang buku-bukunya menyerbu seluruh rumah.

Tetaplah kita ini bukan bangsa literer. Bagaimana pemimpin, begitulah
yang dipimpin. Bangsa yang suka ngomong daripada menulis, ngobrol
daripada membaca. Tidak pernah punya catatan sehingga mudah lupa, dan
baru ingat ketika peristiwa yang sama berulang. Hangat-hangat tahi
ayam. Kisah-kisah tanpa ending, cerita tanpa struktur

selesai

One Response to “Hangat-Hangat Tahi Ayam”

  1. shafira November 28, 2007 at 7:49 am #

    Bener tuh buh Bung Jakob…aduh sy jd sad & baru nyadar tuh…so..apa ya yang harus lakukan biar ke depan bangsa ini jadi cinta buku & gemar baca…klo sy sih cinta bukunya ok, tapi kurang gemar baca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: