Search Engine,Si Dungu Pemuas Rasa Ingin Tahu

2 Oct

* Rosa Widyawan, Pustakawan PDII-LIPI

Para pustakawan belakangan ini risau atas kelangsungan profesi mereka yang terancam. Pasalnya, penggunaan Internet meningkat, diikuti menurunnya pengunjung meja referensi di perpustakaan kota besar. Banyak para pengelola perpustakaan ini termakan propaganda bahwa search engine (mesin pencari) yang dipakai para pengguna Internet bakal menggantikan fungsi pustakawan.

Kegalauan ini masuk akal pula karena munculnya Internet dan World Wide Web sebagai sumber informasi, wahana penerbitan, dan forum dialog menyerupai suasana perpustakaan dalam dunia nyata informasi tercetak. Dilihat dari dimensi teknologi, Internet mirip teknologi yang ada dalam dunia nyata perpustakaan. Rasanya kita saat ini ada dalam dua dunia: sebelah kaki masih berada (barangkali akan selalu) dalam dunia teknologi pencarian kembali informasi dengan kartu katalog, walaupun kaki sebelahnya sudah menginjak informasi digital dengan mesin pencari yang bisa mengantar kita ke belahan bumi lain hanya dengan menuliskan sepatah-dua patah kata.

Apakah ini merupakan suatu kemewahan, jika hampir tiga bulan sekali muncul mesin pencari baru, atau setidaknya yang lama memberikan fasilitas baru. Infoseek, Lycos, Webcrawler, AltaVista, Vivisimo, dan deretan panjang lainnya, tak kunjung usai. Masing-masing berlomba tampil prima: ada yang mengunggulkan indeks halaman web, kecepatan proses, bahkan memperluas teknik penelusuran. Demikian juga generasi baru bersemi dengan kemampuan tak jauh beda: temuan mengecewakan dan banyak yang luput sasaran. Mengapa mesin pencari bisa begitu gagap mengindeks WWW?

Bukankah ini merupakan rahasia umum, kalau kegagapan ini bukan berakar dari mesin pencari, melainkan justru web itu sendiri, yang hampir semuanya menggunakan hypertext markup language (HTML)? Jika mesin pencari menemukan kata atau frase yang dibatasi dengan ruas (tag) judul, akan menghasilkan temuan lebih banyak jika kata atau frasenya itu hanya ditemukan dalam alinea pertama, atau larik kalimat halaman di bawahnya.

Pada hakikatnya, mesin pencari adalah pencari, alat penghitung, dan pembuat peringkat yang tujuannya untuk memenuhi permintaan penelusuran informasi. Tapi apa daya, HTML tidak jitu memaparkan isi dokumen yang dikandungnya itu. Jangan-jangan ada kelompok yang tak setuju jargon information for all, bersekongkol mengganjal kebebasan informasi?

Nanti dulu, dialektika bicara! Para pranata komputer telah mencari pemecahan dengan standard generalized markup language (SGML), tapi kerumitannya menyulitkan pengguna kebanyakan, setidaknya menurut pengalaman Michael Perkins, pustakawan referensi di San Diego State University, Amerika. Maka ada kemungkinan orang yang paling lihai menggunakan SGML hanyalah si pencipta dokumen itu sendiri. Kesimpulan Perkins, SGML malah membuahkan kekecewaan.

Memangnya orang gampang menyerah? Kekecewaan ini malah menggiring orang pada metadata, alias data tentang data, misalnya entri katalog perpustakaan. Cantuman machine assisted readable code (MARC) adalah struktur metadata dalam format yang bisa dibaca mesin. Sayangnya, upaya menerapkan metadata pada masalah ini berjalan bak siput. Seseorang harus berbekal sistem definisi dokumen metadata, spesifikasi dan kejelasan yang memungkinkan dokumen di web mudah dan cepat digambarkan. Tengok saja Dublin Core (Dublin nama tempat di Ohio, bukan Irlandia), seperangkat inti metadata yang dirumuskan dalam sebuah lokakarya yang diselenggarakan OCLC (Online Computer Library Center) dan NCSA (National Center for Supercomputing Applications) pada Maret 1995. Rekaman atau cantuman yang disusun dengan Dublin Core tak terjaring mesin pencari.

Jika demikian, sebenarnya mesin pencari masih punya kelemahan dalam memenuhi rasa ingin tahu para pencari informasi. Maklum saja, mereka sekadar alat. Dalam jagat digital ini, keterlibatan pustakawan diperlukan untuk memanfaatkan alat itu. Wajar saja karena pustakawan punya kompetensi sosial dan profesional. Merumuskan pertanyaan, dan mencarikan jawaban merupakan pekerjaan kesehariannya. Mungkin banyak pustakawan yang setuju pada catatan Brenda Dervin bahwa pencari informasi itu umumnya orang yang mengalami kendala kognitif, dan ingin melepaskan diri dari kungkungan ini dengan berkonsultasi. Jangan heran jika pustakawan tampak cerewet berusaha menggali pertanyaan sehingga mengetahui informasi apa yang benar-benar dibutuhkan pencari informasi. Jadi bukan sok tahu, tapi dorongan untuk membantu.

Jika kita sekali waktu mampir ke situs perpustakaan universitas besar dunia, sering tersedia kotak isian Ask Librarian. Inilah yang dinamakan pelayanan referensi maya atau pelayanan rujukan berbasis Internet. Pelayanan yang ditengahi pustakawan ini menghubungkan pengguna dengan metadata, ahli atau spesialis yang dapat menjawab pertanyaan dan petunjuk menuju sumber informasi lain. Mirip konsultasi tatap muka, hanya pustakawan dan pengguna berada pada belahan bumi yang berbeda. Proses ini akan lebih hidup jika dilengkapi dengan program chat atau pesan singkat. Lebih afdol jika dibarengi layanan e-mail bagi mereka yang menginginkan informasi yang relatif lengkap dan cepat.

Melihat keadaan ini, apakah para pustakawan Indonesia masih percaya propaganda: mesin pencari bakal menggantikan fungsi pustakawan? Para pencari informasi harus menyelesaikan pekerjaan, sedangkan mesin pencari selalu terbata-bata menemukan data dan informasi yang tersedia. Mereka itu ibarat si dungu yang hanya mampu membantu kita memuaskan rasa ingin tahu. Dalam proses pemuasan, pustakawan tidak hanya memberi tahu, tetapi menunjukkan informasi itu. Bersama pencari informasi, pustakawan perlu mengasah keterampilan menelusur, menganalisis informasi, karena ini merupakan ibadah dalam dunia sains dan teknologi.

sumber : tempo.co.id

One Response to “Search Engine,Si Dungu Pemuas Rasa Ingin Tahu”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Search Engine,Si Dungu Pemuas Rasa Ingin Tahu - October 13, 2007

    […] Admin Wrote an interesting post today on chinmi.wordpress.comThe first paragraph is here: […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: