TIPS MENCARI SEKOLAH IDEAL

31 Jul

Date:     Tue, 31 Jul 2007 02:49:40 -0000

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&dn=20070730133045

Oleh : Imam Subkhan

30-Jul-2007, 14:20:05 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia –
Setiap menjelang tahun ajaran baru, hampir semua orangtua bingung
mencari sekolah yang tepat untuk anak-anaknya. Sebagai orangtua,
tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun yang
ada, Anda justru pusing dibebani segudang pertanyaan. Seperti apa
bentuk sekolah yang baik dan ideal? Apakah harga menjamin kualitas
yang diberikan? Dan lain sebagainya. “Ideal” menurut kamus bahasa
Indonesia artinya “sesuai dengan yang diharapkan”.

Tentunya orang tua berharap sekolah yang dipilih akan mampu menjadi
tempat mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Berikut ini,
penulis mencoba memberikan tips bagaimana mencari sekolah yang ideal
atau tepat bagi anak-anak.

Libatkan anak ketika memilih sekolah.
Seharusnya selalu disadari dan dipahami oleh orang tua, bahwa yang
nantinya sekolah adalah anak, bukan mereka. Maka, melibatkan anak
dalam memilih sekolah merupakan langkah penting, meskipun usia
prasekolah. Orang tua jangan menganggap remeh kemampuan anak, karena
pada saat usia pra sekolah anak mengalami perkembangan fisik dan
mental yang sangat pesat.

Dalam buku “Magic Trees of Mind”, Marianne Diamond menggambarkan,
perkembangan kemampuan matematika dan intelegensia ruang pada anak
diperkirakan dimulai pada usia satu tahun. Kemampuan bahasa anak
malah sudah dimulai sejak masih dalam kandungan. Ini berarti, daya
nalar dan logika anak pada saat akan memasuki sekolah dasar (6
tahun) sudah berkembang baik.

Tinggal bagaimana orang tua merangsang kemampuan anaknya. Kondisikan
agar proses mencari sekolah dasar tidak menjadi beban berat bagi si
anak melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan. Bagaimana
jika ternyata pilihan anak jatuh pada sekolah yang menurut orangtua
kurang sesuai? Di sinilah peran orang tua diperlukan.

Pada saat orang tua telah membuat pilihan sekolah mana yang akan
dimasuki anak nanti, buatlah kesepakatan sukarela dengan anak bahwa
sekolah yang akan dimasuki adalah murni pilihan anak. Dengan
demikian anak akan merasa bangga karena diberi kesempatan melakukan
hal yang penting. Di sisi lain anak akan lebih bertanggung jawab
karena merasa sekolah yang dimasukinya adalah pilihannya sendiri.

Ketahuilah visi dan misinya.
Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya aspek visi dan misi
pendidikan yang disandang suatu sekolah. Sekolah yang memiliki
kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur
dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang
diinginkan, dapat dilihat di buku profil, brosur, papan nama atau
media publikasi yang digunakan oleh sekolah tersebut. Dari visi dan
misi yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan
profil output yang akan dihasilkan.

Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari beberapa aspek,
antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan
hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Seperti yang sudah terungkap
di muka, orang tua saat ini masih memandang aspek akademis menjadi
pertimbangan pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran jika
banyak orang tua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan
sekolah dengan prestasi akademik tinggi.

Pihak sekolah pun akan melakukan seleksi ketat terhadap calon
siswanya. Hanya siswa yang memiliki IQ tinggi yang dapat diterima di
sekolah yang bersangkutan. Dari kasus ini, Penulis jadi tergelitik,
sebenarnya yang unggul sekolah atau siswanya. Sangat masuk logika,
jika sekolah yang hanya menerima input baik-baik saja, kemudian out
putnya juga baik.

Oleh sebab itu, orang tua seharusnya tidak lagi terjebak pada
istilah-istilah sekolah favourit, unggulan, plus dan lain-lain.
Padahal yang dikembangkan hanya pada aspek kognitif saja atau
academic minded. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu
menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi (baca:
kecerdasan majemuk) peserta didiknya.

Porsi Pendidikan Agama.
Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang menimpa generasi
penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus
tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menuyimpang
lainnya, maka peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan
terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa.

Penulis berpendapat bahwa, pendidikan moral tertinggi terletak di
dalam doktrin-doktrin agama yang diyakini seseorang. Melalui
pendidikan agama yang cukup, diharapkan para peserta didik akan
muncul kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai tugas, peran dan
tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan, anak, siswa dan anggota
masyarakat. Sebagai implementasinya, anak mampu menghargai orang
lain dengan segala perbedaan serta mampu memilah dan memilih
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan tidak.

Oleh karena itu, porsi pendidikan agama yang diterapkan oleh suatu
sekolah hendaknuya menjadi bahan pertimbangan penting orang tua dan
anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika kita ingin mendapatkan
pendidikan agama yang lebih di sekolah negeri, nampaknya sulit
diwujudkan. Pasalnya, sesuai aturan yang berlaku, sekolah-sekolah
negeri hanya menerapkan 2 (dua) jam pelajaran agama dalam sepekan,
kecuali inisiatif pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan.

Mungkin dari sini, sekolah-sekolah swasta yang berbasiskan agama
dapat menjadi solusinya. Sekolah ini jelas-jelas memberikan porsi
lebih banyak untuk pendidikan agama, bahkan sudah dipadukan dengan
mata pelajaran lain, sehingga terdapat internalisasi nilai-nilai
agama di setiap bahan ajar. Apalagi di jenjang pendidikan dasar,
ibaratnya sebagai momentum peletakan pondasi bangunan kepribadian
dan pengoptimalan seluruh potensi siswa. Maka, agama menjadi
komponen paling penting dalam membentuk dan membangun kharakter
siswa.

Kurikulum pembelajaran.
Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Dikarenakan
di dalamnya berisi tentang perencanaan pembelajaran yang menyangkut
semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam
perkembangan, baik formal maupun informal guna mencapai tujuan
pendidikan. Walaupun penerapan kurikulum ini sudah diatur dan
diseragamkan dari pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat
melakukan modifikasi-modifika si disesuaikan dengan kondisi sekolah,
lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam kebijakan kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) sangat memberikan keleluasaan kepada pihak sekolah
(negeri maupun swasta) untuk berkreasi dan berinovasi selama masih
mengacu kepada standar kompetensi yang ditentukan.

Maka, sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di antara sekolah-
sekolah, tentang bagaimana menampilkan profil sekolah dan keunggulan-
keunggulannya dalam hal muatan materi pembelajaran dan kegiatan
sekolah. Oleh karena itu, orang tua dan calon siswa harus benar-
benar jeli dan teliti dalam memilih sekolah terutama pertimbangan
dari sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut.

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah juga
perlu dicermati, apakah dimungkinkan dapat mengoptimalkan bakat dan
potensi peserta didik.

Profil Pendidik.
Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat
dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung
tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang
didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung
oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap.

Maka tidak heran, jika pemerintah terus-menerus berusaha
meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai program, mulai dari
penataran-penataran , beasiswa pendidikan dan sertifikasi guru.

Raka Joni (1980) mengemukakan adanya tiga dimensi umum yang menjadi
kompetensi tenaga kependidikan, antara lain:

(1) Kompetensi personal atau pribadi, maksudnya seorang guru harus
memiliki kepribadian yang mantap yang patut diteladani. Dengan
demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang
menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa,
tut wuri handayani.

(2) kompetensi profesional, maksudnya seorang guru harus memiliki
pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya,
memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses
belajar mengajar yang diselenggarakannya.

(3) Kompetensi kemasyarakatan, artinya seorang guru harus mampu
berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat
luas. Mungkin secara sederhana, ketika kita mengamati profil guru
sebuah sekolah, bisa dilihat dari riwayat pendidikan, pengalaman
mengajar, prestasi, penampilan, sikap dan gaya mengajar apabila
dimungkinkan.

Gedung dan fasilitas.
Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan
prasarana yang mendukung. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas,
taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian,
arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga
edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan
teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki
fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, dimana setiap
stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.

Hal ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk memantau
perkembangan putra-putrinya secara cepat tanpa harus secara fisik
datang ke sekolah. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik,
diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman,
dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak,
sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan
siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa
dengan luas ruangan kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain.

Lokasi sekolah dan lingkungan.
Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak sekolah ke rumah,
lingkungan sekitar dan sarana transportasinya. Bisa dibayangkan
seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya
jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang
ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi
kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang
maupun masuk sekolahnya.

Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa
mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya?
Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh
orang tua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya.
Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat
perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran atau lebih
dekat dengan suasana alam, semua memiliki plus-minus-nya.

Biaya pendidikan.
Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi
pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih,
terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke
bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum
terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/ gedung, seragam, buku,
praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang
dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang
biaya pendidikan yang tidak murah.

Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan program-program
unggulan yang ditawarkan. Namun yang perlu diingat bahwa, tingginya
biaya pendidikan yang diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti
juga dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu,
sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan sudah mampu
mengukur kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan yang
harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di luar program sekolah,
seperti uang saku, transportasi, perlengkapan sekolah dan lain-lain.

Ketertiban dan kebersihan sekolah.
Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan
yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran.
Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh,
penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan
yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu
dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus
merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri
(feels like second home).

Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya.
Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang
ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik,
selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Seperti
telah diurakaikan di muka, yang disebut prestasi tidak hanya secara
akademik, tetapi juga non akademik baik siswa, guru maupun
institusinya.

Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap, perilaku,
kemandirian, keterampilan dan keahlian lain yang mendukung.
Sedangkan Keberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah
dapat diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta
memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah
masyarakat.

Dari paparan di atas, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
orang tua dan anak di tengah euforia kebingungan mencari sekolah
yang ideal. Terlebih-lebih dengan diterapkannya sistem penerimaan
siswa baru (PSB) on line yang masih mengedepankan nilai akademik
(ujian nasional) di dalam proses seleksinya. Hal ini, tentu saja
membuat keresahan dan kepanikan tersendiri terutama bagi yang
nilainya di bawah atau pas-pasan.

Penulis berharap, kedepan sistem seleksi penerimaan siswa baru yang
sekarang ini berlaku perlu dikaji secara mendalam, bukan komponen IT-
nya (sistem on line), tetapi kriteria yang dijadikan alat
penerimaan, yaitu hanya nilai ujian nasional. Oleh karenanya, pihak
sekolah sendiri secara otonom yang dapat menentukan kriteria
penerimaan siswa baru di tempatnya, semoga!

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let’s see here:
http://www.kabarindonesia.com

2 Responses to “TIPS MENCARI SEKOLAH IDEAL”

  1. robert Mendonca August 13, 2007 at 1:11 am #

    thanks buat semua infonya ya…

Trackbacks/Pingbacks

  1. TIPS MENCARI SEKOLAH IDEAL « Permanas always love peace - February 16, 2008

    […] TIPS MENCARI SEKOLAH IDEAL Posted by Admin in Misc, News. add a comment […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: