Mencongak dengan Metris

11 Dec

MAJALAH TEMPO 4-10 DESEMBER

Mencongak dengan Metris

Seorang dosen menemukan metode aritmatika baru yang lebih mudah dan
cepat. Mengatasi kelemahan Sempoa.

DUA jagoan matematika itu berdiri berjejer di depan papan tulis.
Lawan mereka terpampang di depan mata masing-masing: dua buah soal
perkalian kuadrat. Mereka harus adu cepat menyelesaikannya dengan
metode perhitungan berbeda.

Dalam dua menit, pemenangnya tampak. Gung Kinaptyan, juara kelas VI
Sekolah Dasar Regina Pacis, Bogor, tersenyum sambil mengibaskan sisa
kapur di tangannya. Teman sekelasnya, Samuel Wirajaya, pemenang
kompetisi matematika terbuka tingkat SD se-Jabodetabek, masih
berkutat menyelesaikan soal.

Kamis pekan lalu, guru mereka, Fransiska Ephi Sutisna, ingin
membuktikan bahwa ada cara lain untuk menghitung perkalian selain
cara tradisional, yaitu dengan mengalikan dari atas ke bawah, lalu
menjumlahkannya, yang sudah puluhan tahun diajarkan di sekolah.
Itulah cara yang dipakai Gung, dengan mengurutkan secara mendatar
dari kiri ke kanan.

Ternyata, kata Ephi, “Metode yang dipakai Gung memang lebih cepat.”
Siswa-siswi SD Regina Pacis menyebut metode itu Metris alias Metode
Horisontal. Sudah setahun terakhir Ephi mengajarkan metode mencongak
dari kiri ke kanan seperti itu kepada murid-muridnya. Metode baru
itu ia pelajari saat kuliah di Fakultas Ilmu Keguruan, Universitas
Katolik Atma Jaya, Jakarta, tahun lalu. Lantaran ia menganggap
metode ini lebih cepat dan mudah dipahami, ia melakukan uji coba
pada murid-muridnya.

Metris awalnya digagas oleh Stephanus Ivan Goenawan, 32 tahun, dosen
Fakultas Teknik Mesin, Unika Atma Jaya, Jakarta. Ivan tergerak
menyusun Metris karena melihat keterbatasan metode lama. “Metode itu
hanya mengembangkan kemampuan analisis yang lebih meletakkan
landasan kemampuan numeris dan logika pada siswa,” ujarnya. Alhasil,
proses pengajaran dengan metode vertikal hanya mengembangkan kerja
otak kiri saja. Sedangkan Metris bisa berfungsi untuk membentuk
mental aritmatika yang merangsang kreativitas.

“Kedua metode sebenarnya saling bersinergi kalau diterapkan,” kata
Ivan. Dengan menggunakan Metris, para siswa tak hanya mempunyai
kemampuan numeris dan logika, tapi juga memiliki kepercayaan diri
dan daya kreativitas tinggi.

Metode yang amat membantu siswa ini adalah buah kegemaran Ivan yang
senang bereksperimen menyelesaikan soal-soal aritmatika sejak di
bangku SMP Bruderan, Purworejo, Jawa Tengah. Ketika itu ia kerap
mencari jalan sendiri karena tak pernah puas dengan cara gurunya
menjawab soal. Dalam pencarian, ia menemukan banyaknya keteraturan
angka dalam setiap soal yang diberikan gurunya. “Sejak itu saya
mulai menggunakan segitiga paskal dan notasi pagar, sebagai cara
menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Ketertarikan pada aritmatika pula yang membuat Ivan memilih kuliah
di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah
Mada. Enam tahun lalu, Ivan mulai merumuskan metode arimatika
horizontal secara sistematis. Tonggaknya adalah artikelnya yang
diterbitkan di jurnal internal Unika Atma Jaya. Tulisan itu menarik
perhatian sejumlah koleganya di Jurusan Matematika FKIP universitas
tersebut. Ia kemudian diundang untuk berbicara dan mendiskusikan
metode itu.

Metode yang masih bersifat teoretis itu sempat terbengkalai lantaran
Ivan harus menyelesaikan studi S-2 di Institut Teknologi Bandung. Di
Bandung pula ia beruntung berjumpa Alexander Agung, 28 tahun, sesama
penggemar matematika. Bersama kawan kuliahnya itu ia menyusun modul
praktis pengajaran Metris. pada 2005, begitu modul itu rampung, Ivan
dan Alexander menggelar pelatihan bagi para guru SD dan SMP.
Sebelumnya, mereka sempat mempresentasikan metode tersebut ke
sejumlah dosen di FMIPA UI. Hasilnya? “Metode itu diterima sebagai
sebuah metode pembelajaran baru yang menarik untuk aritmatika,” kata
Alexander yang juga dosen di STEKPI, Jakarta selatan.

Melalui situs http://sigmetris. com , kedua sahabat itu
memasyarakatkan temuan tersebut. Mereka juga menggelar sejumlah
pelatihan bagi guru-guru SD, SMP, dan SMA. Sejauh ini, metode itu
baru diterapkan di SD Regina Pacis, Bogor. Beberapa sekolah lain
segera menyusul setelah pada Desember ini mereka menggelar pelatihan
untuk guru-guru SD. “Tahun depan baru direncanakan kursus bagi anak-
anak,” ujar Alexander.

Sekilas metode ini mirip Sempoa, metode berhitung kuno yang
menggunakan alat hitung dari Cina. Sempoa termasuk populer di
Indonesia karena mengandalkan kecepatan berhitung. Menurut
Alexander, Sempoa dan Metris memiliki kesamaan, yaitu mencapai tahap
perhitungan mental aritmatika dan mengandalkan konsep asosiasi
posisi. Bedanya, dalam Metris konsep asosiasi posisi dipelajari
secara langsung dengan mengenalkan konsep asosiasi posisi dengan
notasi pagar kepada para siswanya. “Sempoa memiliki alur sendiri dan
tak sama dengan pendidikan sekolah, sementara Metris disesuaikan
dengan program pelajaran sekolah,” ujarnya.

Perbedaan yang lain, menurut Alex, Metris membuat anak bisa
menjelaskan langkah yang diambil dengan memakai simbol matematika
seperti yang digunakan di sekolah pada umumnya. Sedangkan Sempoa
tidak. Sempoa, menurut Ivan, membuat anak cenderung individual dan
lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses.

Siswa yang ikut Sempoa kerap tak bisa menjelaskan proses perhitungan
yang dilakukannya kepada orang lain. Penyebabnya lantaran dia tidak
memakai simbol matematika yang diformalkan. Alat peraga berupa manik-
manik biasanya cuma bersifat sementara. “Dalam prakteknya, ia harus
memvisualisasikanny a dalam imajinasi, dan tak semua anak bisa
seperti itu,” kata Ivan.

Fakta ini kerap menimbulkan kesalahpahaman. Orang tua sering
menyalahkan guru karena menilai jawaban anaknya salah. Guru biasanya
berkukuh karena tidak tahu apakah jawaban itu buah pikir si anak
atau hasil menyontek. Soalnya, si anak tak bisa menjelaskan
prosesnya. Maka, kata Ivan, “Penggunaan Metris bisa menjadi jembatan
antara Sempoa dan metode vertikal yang dikembangkan sekolah.”

Di SD Regina Pacis, percobaan menggunakan Metris sejauh ini berhasil
mengubah citra matema-tika yang menyeramkan. Dalam percobaan, para
murid awalnya diminta menyelesaikan soal aritmatika dasar dengan
metode lama, yaitu perhitungan dari atas ke bawah. Setelah itu,
mereka diberi soal yang harus diselesaikan dengan Metris. Ternyata
para murid bisa mengerjakan soal dengan lebih cepat dan akurat.
Secara perlahan nilai mereka pun membaik. Tak mengherankan bila
mereka kini menjadi lebih antusias terhadap matematika. “Mereka
menyukainya karena lebih cepat dan mudah,” ujar Ephi.

Beberapa siswa yang dulu fobia alias takut terhadap pelajaran
matematika kini berbalik. Maria Yohana salah satunya. Nona kecil ini
dulu selalu grogi bila pelajaran matematika tiba. Setiap kali ada
ulangan matematika dadakan, nilainya tak lebih dari angka 6. Kini,
semua itu tinggal cerita. Nilai 10 telah biasa ia terima. Maria
bahkan sudah berani mengacungkan tangan, menawarkan diri untuk maju
ke depan kelas untuk mengerjakan soal yang diberikan guru.

Siswa yang berbakat matematika kini juga semakin kreatif
menyelesaikan soal. Beberapa anak menciptakan rumus-rumus sendiri
untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Begitu sukanya mereka
pada matematika sampai-sampai meminta guru mendirikan klub
matematika di sekolah. “Saya membiarkan mereka berkreasi
menyelesaikan soal dengan cara mereka sendiri. Asalkan logika
berhitungnya benar,” ujar Ephi.

oleh : Widiarsi Agustina dan Arif Fadillah

About these ads

9 Responses to “Mencongak dengan Metris”

  1. yusti April 1, 2007 at 9:44 am #

    lam kenal, saya kebetulan penggemar matematika juga, lagi cari cara biar anak2 cepet bisa menghitung terutama perkalian. tapi anak-anak sekarang kayanya males menghafal. buktinya di daerah saya ada siswa smp kelas 2 masih susah untuk mengali apalagi membagi…tolong dong kalo bisa kasih solusi…makasih.

  2. keke April 20, 2007 at 1:11 pm #

    kebetulan saya masih baru di dunia ARITMATIKA, saya ingin menanyakan bagaimana cara mengajar ARITMATIKA sempoa untuk ANAK TK dimana kita masih bisa belajar sambil bermain tapi kita bisa menyampaikan materi itu dengan baik,dan mereka bisa memahaminya dengan baik pula sehingga mere tidak bosan dengan materi yang hanya mengerjakan soal soal hitungan itu
    terima kasih sebelumnya

  3. mita August 25, 2007 at 11:32 am #

    Hallo, salam kenal. Saya sedang keulitan cari judul untuk skripi saya. Saya pingin mencoba mencari metode pembelajaran baru khususnya matematika untuk skripsi saya. Apakah saya bisa minta bantuan Anda? Saya agak tertarik dengan metode pembelajaran metris pada aritmatika. Apakah saya bisa menggunakannya? Tetapi saya pingin penjelasan lebih lanjut. Agar lebih memahami. Menurut saran anda bagaimana.
    Terima kasih sebelumnya. Saya sangat butuh bantuan Anda.GBUs

  4. Admin August 30, 2007 at 10:34 am #

    mita bisa menanyakan hal tersebut ke milis-milis berikut ini :

    http://tech.groups.yahoo.com/group/kuliah_aritmatika_teuad/

    http://groups.yahoo.com/group/metode_horisontal/
    Sebuah milis yang dimoderasi dalam bahasa Indonesia (beberapa dalam Inggris) yang ditujukan untuk berdiskusi, bertukar pendapat, pengetahuan serta pengalaman mengenai masalah-masalah Aritmatika, Matematika, Puzzle dan Logika.

  5. yayuk September 8, 2007 at 5:53 pm #

    Hi,salam matematika.
    aq sedang kesulitan cari referensi buat tugas akhir.
    aq pke permainan monopoli sebagai media pengajaran matematika buat ank SD,(aq kulh di PGSD UNESA surabaya),
    aq sering mikir klo monopoli tu bisa dibuat ngajar matematika dengan memodifikasi teknis permainannya,dan merubah kota2 yang ada di pa2n monopoli menjadi perlengkapan matematik,ato mejadi kuis matematika,boleh kan minta bantuan n saran2nya?

  6. noran November 19, 2007 at 3:41 am #

    untuk mendapatkan info kawasan untuk anak

  7. meilani budiyanti December 2, 2007 at 12:41 pm #

    anak say sdh les sempoa selama kurang lebih 2 thn ini, sekarang ia sdh di modul 3, cara perkalian……… tp saat ini anak saya ternyata belum bisa menggunakan sempoa dengan benar, sehingga ia selalu salah dalam menghitung walaupun di modul 3 ini ia sdh tdk harus memakai sempoa lagi, tp sdh harus membayang….. yang ingin sy tanyakan bagaimana cara mengajar supaya anak saya bs cepat tanggap dalam menggunakan sempoa…..

  8. irman January 28, 2008 at 7:04 pm #

    pelajaran berhitung itu emang menyenangkan tapi saya selalu lambat
    bisakan anda membantu saya biar lebih cepat dalam berhitung dna mendefinisikan soal yang menurut saya sulit…………..

  9. venly April 29, 2008 at 10:27 am #

    JIka KO=075 sampai 1
    KS = 0.5 sampai 0.74
    KP=0.49 sampai 0.25
    KM = 0.24 samapai 0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers

%d bloggers like this: